Jika berbicara tentang puisi berbahasa Inggris, pasti langsung tersirat nama Shakespeare, bukan? Ya, dramawan yang satu ini merupakan salah satu penulis paling ulung di masanya; mungkin hingga saat ini.

Hal ini bisa dibuktikan karena karya-karya yang dia tulis, tidak lekang oleh waktu. Dari zaman kekuasaan Ratu Elizabeth I hingga sekarang, drama dan puisi yang dibuatnya masih mengalun indah di telinga siapapun yang mendengarnya.

Puisi Shakespeare sendiri jika ditotalkan bisa mencapai 150 jumlahnya. Ini termasuk ke dalam bentuk yang panjang maupun singkat. Di samping itu, dia telah menulis sebanyak 38 drama. Beberapa karyanya telah dikenal sebagai “the most finest” di antara karya berbahasa Inggris lainnya.

Melihat pernyataan-pernyataan ini, Shakespeare tentunya bukan seorang penulis yang biasa-biasa saja. Di antara banyaknya karya yang dia buat, ada satu yang paling menarik hati saya sebagai seorang pembaca, yaitu Sonnet 18.

Puisi Shakespeare yang satu ini mengalunkan tema kekaguman, sekaligus menggambarkan kematian. Karya tulis satu ini juga menjadi perbincangan yang cukup hangat, karena beberapa pihak berargumen bahwa Shakespeare sedang mengagumi ketampanan seorang pria.

Diawali dengan baris “Shall I compare thee to a summer’s day?”, Shakespeare ‘menggoda’ dan memuji orang ini. Dia membandingkannya dengan hari musim panas yang umum dikenal, indah. Dia juga menggunakan bahasa yang begitu puitis dalam menyampaikan kekaguman tersebut.

Dalam baris kedua, Shakespeare bahkan menekankan bahwa orang yang dikaguminya ini lebih indah dari hari di musim panas. Uniknya, dalam baris ketiga hingga kedelapan, Shakespeare menjelaskan musim-musim di Inggris yang silih berganti.

Dia mengatakan bahwa musim panas yang indah pun, bahkan dapat terasa tidak menyenangkan. Misalnya, angin yang berhembus terlalu kencang, suhu yang sangat tinggi, atau hujan yang kadang mengguyur, tetap saja ada. Dia beranggapan bahwa orang-orang menua begitu cepat; berlalu dengan sejalannya musim.

Baca juga:  Bagaimana Bali Setelah Pariwisata Dibuka?

Meskipun begitu, di baris sembilan hingga 12, dia menekankan bahwa keindahan sang pujaan hati tak akan pernah pudar. Walau waktu bergulir cepat dan kematian datang menghampiri, ia bahkan bisa menghindarinya. Shakespeare menutup puisinya dengan jaminan bahwa pujaan hatinya akan selalu dikenang abadi dan memberi napas kehidupan.

Terlihat bahwa puisi ini merupakan puisi yang sangat indah dan terkesan romantis. Sang pujaan hati yang keindahannya tak luntur oleh waktu dapat terus hidup abadi dan bahkan memberi energi kehidupan. 

Itulah salah satu karya agung sang dramawan Inggris. **auh

Foto: history.com

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.