Fanatisme itu ada di mana saja, dan bukan monopoli agama. Bahkan, dalam konteks sepakbola dan olahraga yang menjunjung tinggi fair play, tetap saja kita menemukan tindakan-tindakan yang tidak fair.

Para pemain sepakbola atau atlet dapat melakukan aksi tidak sportif. Namun, yang paling fanatik dan anarkis tentu saja adalah para fans. Para pendukung masing-masing tim bisa bertindak di luar nalar. Peristiwa Kanjuruhan adalah contoh paling kelam.

Geliat fanatisme dapat juga terbaca dalam perhelatan sepakbola sejagat di Qatar. Sebenarnya tidak salah kita memegang atau memuji tim yang kita favoritkan. Namun, pesepakbola dan pelatih adalah manusia. Kemarin mereka bagus, hari ini bisa tampil buruk. Tim lain pun demikian. Kemarin mereka jelek, hari ini mereka tampil menawan dan menang.

Tak ada yang abadi. Tak ada yang benar-benar sempurna. Apalagi, bola itu bulat. Bola bisa bergulir ke mana saja. Kadang bisa ditebak, kadang tidak. Karena itu, tendangan Messi dan Ronaldo sekalipun bisa diblok kiper atau masuk dengan leluasa.

Jadi, tidak perlu berlebihan. Tidak perlu menuntut lebih dari apa yang seharusnya dan senyatanya bisa diberikan oleh sebuah tim. Semua tim bisa kalah dan menang. Tim seperti Jerman atau Spanyol bisa pulang lebih cepat.

Ketika para fans menuntut lebih, apalagi tidak bisa menerima kenyataan, maka anarki akan terjadi. Dari fanatisme ke anarki itu jaraknya tipis sekali. Orang fanatik itu tidak logis dan tidak realistis. Mereka menyangka hanya tim mereka yang paling bagus dan akan terus bagus. Yang lain buruk dan akan selalu buruk.

Ketika mereka melihat realitas tidak seperti yang mereka pikirkan dan harapkan, maka banyak hal dilakukan untuk sebuah pembelaan dan pembenaran, termasuk melakukan tindakan teror dan anarki.

Baca juga:  Cin(T)a: Kasih Beda Agama, Yang Tetap Manis Dibahas Kembali

Teror dan anarki itu memang lebih ‘canggih’ lagi kalau sudah terkait agama. Karena, dalam pikiran picik agama, para teroris itu dijanjikan surga. Alhasil, raga hancur dengan bom bunuh diri pun tidak masalah. Demi surga, demi Tuhan. Mati pun aku rela. Padahal, Tuhan tak perlu dibela!

Ajaran Tuhan adalah ajaran damai. Ajaran cinta yang tak bersyarat. Sayangnya, di telinga orang fanatik, ajaran ini diputarbalikkan, dibatasi! Tuhan baik, tetapi hanya untuk kalangan terbatas! Untuk kita saja! Tidak untuk mereka!

Astaga! Kekerasan atas nama Tuhan itu sudah dimulai dari pikiran. Hanya menunggu pemicu saja, lalu meledak, seperti bom yang hari ini meledak di Polsek Istana Anyar, Bandung!

Di tengah eforia sepakbola dunia kita berduka; Di saat umat Kristen sedang menjalani masa Raya Adven dan mempersiapkan diri menyambut Natal, bom itu kembali meledak. Ketika Indonesia sedang bersiap menyongsong tahun politik, teror kembali terjadi. Semoga peristiwa-peristiwa kelam ini mendidik kita untuk tidak lagi berlaku fanatik!

Cinta agama sendiri itu harus! Namun, jangan fanatik. Sama seperti kita cinta sebuah klub sepakbola. Boleh saja! Namun, tetap logis dan realistis. Cinta Indonesia pun demikian. Wajib untuk kita semua, tetapi tidak fanatik!

Mari kita hidup dengan bebas dan bebaskan hidup dari fanatisme juga teror dengan cinta; berlakulah logis, realistik, dan konstruktif. Nikmati setiap proses. Kalah atau menang bukan masalah. Hargailah perbedaan, sebab itulah yang membuat hidup menjadi indah. Sama seperti sepakbola, indah dinikmati karena para pemain punya posisi dan skil yang berbeda yang dipadukan dalam satu tim yang solid! Menyatukan diri dan mampu menerima serta bekerjasama dalam perbedaan sesungguhnya adalah kemenangan sejati.

Baca juga:  Ultah Jokowi dan Kenangan Pembredelan Media

Tuhan sayang Indonesia. Tuhan sayang kita semua.

Penulis: Pdt. Harriman A. Pattianakotta (Pendeta UK. Maranatha, Wakil Ketua PIKI Jabar)
Foto: Rahmat Kurniawan/ayobandung.com

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.