Sembrono kini viral. Pasca pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara partai Golkar, kata ini lalu menjadi buah bibir. Ada yang menduga bahwa Jokowi sedang mengkritik salah satu partai yang terburu-buru mengusung bakal calon presiden.

Reputasi bakal calon tersebut memang tidak terlalu baik. Kecerdasan intelektualnya oke. Namun, integritas dan komitmen kerakyatan dan keadilan sosial bagi masyarakat Indonesia yang majemuk diragukan. Sekali lagi, ini hanya dugaan penafsir pidato Jokowi

Sejatinya, manusia memang merupakan makhluk penafsir. Setiap peristiwa dapat menjadi teks terbuka untuk ditafsir demi sebuah makna dan tujuan dari sudut pandang pembaca atau penafsir itu sendiri. Karenanya,  setiap orang dapat dengan bebas menjadikan pidato Jokowi sebagai teks yang terbuka untuk dibaca dengan berbagai maksud.

Saya sendiri melihat bahwa di balik pernyataan Jokowi itu terkandung harapan untuk pemimpin nasional yang lebih baik ke depan.  Apalagi, bangsa ini sedang diancam oleh resesi ekonomi global, juga berbagai persoalan sosial kebangsaan, sampai tantangan pembangunan infrastruktur demi pemerataan dan keadilan.

Karena itu, bangsa ini tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang yang berintegritas, komitmen kebangsaannya teruji, serta mau lelah bekerja keras dan rela berkorban untuk masyarakat; bukan yang membahayakan dan mengorbankan kepentingan masyarakat hanya demi sensasi politik kekuasaan.

Partai politik harus serius, cermat, dan hati-hati memilih serta menetapkan figur calon pemimpin negara dan bangsa.

PDIP Jangan Sembrono
Tak terkecuali, lontaran Jokowi supaya jangan sembrono menetapkan bakal calon dan calon presiden berlaku juga untuk PDIP, partainya Sang Presiden itu sendiri. Sesuai prinsip demokrasi yang sudah disepakati, periode kepemimpinan ini adalah masa pemerintahan terakhir Jokowi.

Oleh karena itu, PDIP pun harus mempersiapkan kader terbaiknya untuk maju sebagai calon presiden. PDIP sudah punya pengalaman sebelumnya ketika mengusung Jokowi sebagai calon presiden.

Baca juga:  Anies Baswedan dan Sikap Politik Partai yang (Tidak) Restoratif?

Jokowi bukan berasal dari trah Soekarno. Ia juga bukan pemimpin Parpol yang popular dan kharismatik di masa itu. Bukan juga seorang pengusaha besar dan tenar.  Ia hanya seorang pengusaha mebel yang kemudian sukses menjadi walikota Solo, dan sukses pula sebagai gubernur DKI, lalu didaulat sebagai calon presiden dan sukses.

Dua periode ia mendapatkan kepercayaan Partai PDIP bersama para Parpol koalisi dan masyarakat Indonesia sebagai presiden.

Disamping kekurangan yang ada, berbagai kemajuan yang sudah diraih selama pemerintahan Jokowi harus dilanjutkan, tentu oleh figur yang tepat. Karena itu, partai politik, termasuk PDIP tidak boleh sembrono.

Ganjar Atau Puan?
Percakapan mengenai siapa yang akan diusung oleh PDIP sebagai calon presiden berikutnya menarik untuk dipercakapkan, sebab hal itu kini menjadi bola panas.

Dua nama yang mengemuka sekarang adalah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, atau Puan Maharani, putri Ketua Umum PDIP dan ketua DPR RI. Keduanya sudah menjadi tokoh nasional. Keduanya pun berpeluang untuk diusung.

Kecil kemungkinan akan ada figur lain selain dua orang ini yang akan diusulkan oleh PDIP. Dan,  tepat di sinilah jiwa kenegarawanan seorang Ibu Mega kembali diuji. Apakah ia akan memilih Ganjar yang sekarang ini dijagokan oleh lembaga-lembaga survei atau menjatuhkan pilihan pada putrinya sendiri.

Sang putri tentu memiliki jalan dan pengalaman yang berbeda dengan Ibu Mega, sosok yang sejauh ini bisa mempertahankan soliditas PDIP sebagai Parpol. Puan tentu memiliki basis pendukung tersendiri, baik di akar rumput maupun loyalisnya di PDIP.

Namun, di sini kematangan berdemokrasi di internal PDIP sedang diuji. Bila salah menentukan, bisa jadi mereka akan kehilangan pendukung yang saat ini semakin kuat mengusung Ganjar, sosok yang dianggap banyak kalangan cukup mampu meneruskan kiprah Jokowi.

Baca juga:  Ganjar Pranowo Apresiasi Semangat Nunki Herwanti yang Positif Covid-19 dalam Kondisi Hamil

So, kita berharap, PDIP tidak sembrono. Yang terbaiklah yang kiranya diusung oleh si moncong putih.

Penulis: Hariman A. Pattianakotta (Dewan Pakar PNPS GMKI, Koordinator TePi Jabar)

Foto:  Antara/Hafidz Mubarak A

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.