Pattimura-Pattimura tua boleh dihancurkan tetapi kelak Pattimura-Pattimura muda akan bangkit.” -Kapitan Pattimura

Kapitan Pattimura merupakan pahlawan nasional yang lahir pada 8 Juni 1783 di Saparua, Maluku. Dia memiliki darah bangsawan dari ayahnya yang bernama Antoni Matulessy.

***

Setelah sekian lama dijajah oleh Inggris, pada tanggal 13 Agustus 1814, Belanda masuk ke Maluku dengan tujuan menguasai jalur rempah-rempah melalui pelayaran Hongi. Selain itu, Belanda juga kembali memberlakukan peraturan kerja paksa bagi masyarakat Maluku yang telah dihapuskan oleh Inggris.

Di samping ini, Van den Berg, selaku Residen Saparua juga mengeluarkan kebijakan bahwa masyarakat lokal perlu menyediakan perahu bagi keperluan administrasi Belanda dengan tanpa bayaran. Melihat hal ini, tentu saja Pattimura merasa tidak setuju dan bermaksud untuk melakukan perlawanan.

Akhirnya, sebagian besar rakyat Maluku berpihak pada Pattimura dan membantunya untuk menyerbu benteng Duurstede milik Belanda. Pada 15 Mei 1817, Pattimura dibantu dengan para panglimanya menyerbu benteng Duurstede dan berhasil merebutnya. Mengejutkannya, seluruh pasukan Belanda tewas termasuk Sang Residen, den Berg.

Mengalami hal ini, Belanda tidak ingin melepaskan benteng tersebut begitu saja kepada pihak lawan. Pada tanggal 20 Mei 1817, 300 orang pasukan yang dipimpin oleh Mayor Beetjes menyerang kembali pasukan Pattimura. Penyerangan ini, untungnya, dapat digagalkan oleh Kapitan Pattimura dan pasukannya.

Tak kunjung menyerah, Belanda terus meluncurkan serangan, baik dalam bentuk vandalisme, serangan mendadak, maupun berunding. Taktik demi taktik berujung pada kegagalan. Akhirnya, divide et impera, yang merupakan taktik adu domba berhasil memecah belah masyarakat Maluku.

Dikarenakan pengkhianatan dari Raja Booi dari Saparua yang membocorkan strategi penyerangan Pattimura, pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura ditangkap oleh Belanda. Kisah hidupnya berakhir di tiang gantungan di depan Benteng Nieuw, Victoria, Ambon.

Baca juga:  Indonesia Akan Resesi? Ini Tanda yang Segera Terasa

***

Walaupun berakhir dengan tragis, Pattimura menyisakan jejak-jejak berharga bagi bangsa Indonesia.

Di Maluku sendiri, nama Pattimura diabadikan ke dalam beberapa nama tempat, misalnya Universitas Pattimura, Taman Pattimura, bahkan Bandara Internasional Pattimura di Ambon.

Perjuangannya ini merupakan contoh yang sangat inspiratif bagi tokoh-tokoh nasional selanjutnya. Hal ini memicu bara semangat dalam tiap tokoh yang berjuang sampai akhirnya mencapai kemerdekaan. **auh

Foto: Republika

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.