Gusti Raden Mas Dorodjatun atau yang biasa disebut dengan Hamengkubuwono IX merupakan seorang pahlawan nasional yang sangat berjasa bagi bangsa Indonesia.

Terlahir dari keluarga Keraton Ngayogyakarta, dia terkenal sebagai raja yang santun, tegas, dan berwibawa.

Dalam masa hidupnya, ada cukup banyak torehan bekas tinta yang terukir dari hasil ayunan tangannya; menggambarkan corak bernuansa Nusantara bagi kemajuan bangsa.

Bapak Pramuka Indonesia

Statusnya sebagai seorang pangeran saat itu tidak menutupi fakta bahwa dia merupakan anak yang mandiri. Ayahnya, Hamengkubuwono VIII, menitipkannya ke keluarga Mulder agar dididik secara sama dengan anak-anak lainnya.

Kecintaannya pada organisasi Pramuka dia dapatkan dari sejak berumur 6 tahun. Di sekolah, ia mulai aktif mengikuti kegiatan-kegiatan Kepanduan yang diadakan di masyarakat.

Seutuhnya, tidak ada istilah Pramuka pada saat itu, namun seperti yang dicantum oleh tirto.id (9/8/2022), HB IX mencetuskan nama Poromuko atau “pasukan terdepan dalam perang”.

Sebutan ini kemudian berevolusi menjadi Pramuka dengan kepanjangannya yaitu Praja Muda Karana yang bermakna “jiwa muda yang suka berkarya”.

Nah, pada tahun 1960, Soekarno mendirikan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas) Pramuka. Soekarno menunjuk Brigjen TNI Dr. A. Aziz Saleh bersamaan dengan Hamengkubuwono IX selaku wakilnya, karena telah mencapai pangkat Pandu Agung atau Pemimpin Kepanduan.

Mimpi terealisasinya organisasi Pramuka adalah pada tahun 14 Agustus 1961. Disini, HB IX ditunjuk sebagai Ketua Kwartir Nasional dan menjabat selama 4 periode lamanya.

Selain itu, dia juga dianugerahi penghargaan Bronze Wolf Award dari World Organization of the Scout Movement (WOSM), atas jasanya dalam menyatukan kepanduan nasional.

Dalam periode inilah transisi dari Kepanduan menjadi Pramuka menjadi sangat signifikan.

Teman Dekat Ratu Juliana

Semasa menempuh studi di Hogere Burgerschool di Semarang dan Bandung, sang ayah mengirimnya untuk melanjutkan studi di Leiden, Belanda.

Baca juga:  SAE Nababan Pendeta di Lima Zaman

Disana, dia mengambil studi ilmu hukum tata negara dan aktif mengikuti klub debat yang dipimpin oleh Profesor Schrieke.

Kebetulan, penerus takhta Kerajaan Belanda saat itu, Juliana Louise Marie Wilhelmina van Oranje-Nassau, pun sedang menempuh pendidikan di kampus yang sama. Dari sini, mulailah HB IX dan Juliana menjalin hubungan persahabatan yang cukup dekat.

Terbukti, pada 31 Agustus 1971, Juliana melakukan kunjungan ke Yogyakarta.

Di samping hal ini, Wawan Kurniawan Joehanda juga pernah mengutip tulisan George T. Kahin dalam bukunya ‘Djocjakarta: Mereka (Pernah) di Sini Des 1948-Juni 1949’ bahwa setelah Yogyakarta dikuasai Belanda, Sultan menolak untuk menerima Jenderal Meyer di keratonnya.

Ditolak, Spoor selaku Legercommandant pasukan Belanda datang dengan sebuah tank kecil dan mengancam akan menerobos. 

Namun, HB IX tetap menolak walaupun Belanda berjanji akan memberikan banyak hal.

Katanya, HB IX pernah dianugerahi jabatan Commandeur in de Orde van Oranje-Nassau dengan pangkat (tituler) Mayor Jenderal dan Ratu Juliana pun berpesan bahwa tidak ada seorang pun yang berhak menyentuh Sang Sultan dan kerajaannya; dengan anggapan bahwa Yogyakarta merupakan “negara merdeka” yang terpisah dari NKRI.

Maka dari itu, para prajurit Belanda segan jika sudah berhadapan dengan HB IX dan memilih untuk mundur.

Fakta-fakta Menarik

  • PNS Pertama di Indonesia

Sri Sultan Hamengkubuwono IX ternyata adalah seorang Pegawai Sipil Negeri.

Dengan NIP 010000001, dia menjadi PNS pertama yang dilantik secara resmi pada tahun 1940.

GBPH Joyokusumo mengonfirmasi kebenarannya dan mengatakan bahwa kartu HB IX disimpan oleh pihak keluarga sebagai bukti keabsahan.

  • Enam Juta Gulden untuk Indonesia

Dalam krisis ekonomi, pangan, dan kelangkaan sumber daya dimana-mana akibat perang, Indonesia tidak dapat maju menjalankan roda perekonomian secara stabil.

Baca juga:  Skenario Pembunuhan Berencana. Ferdy Sambo Terancam Hukuman Mati!

Di tengah kalang kabutnya situasi, Hamengkubuwono IX menghibahkan 6 juta gulden untuk dipakai sebagai keperluan negara yang baru saja lahir.

Dia berkata kepada Soekarno, “Jogja sudah tidak punya apa-apa lagi. Silakan lanjutkan pemerintahan di Jakarta”.

Soekarno merasa terharu dan berniat untuk membangun kembali republik yang sudah compang-camping.

  • Sinuhun Sedha Washington

Selayaknya para Sultan Ngayogyakarta, HB IX pun memiliki gelarnya tersendiri setelah wafat.

Uniknya, gelar yang dimiliki merupakan perpaduan dari Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris, yaitu Sinuhun Sedha Washington.

Hal ini dikarenakan HB IX meninggal di Washington DC, Amerika Serikat. **auh

Foto: dpad.jogjaprov.go.id/

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.