Partai Nasdem sudah meminang Anies Baswedan dan menjagokannya sebagai the next president. Publik pun bereaksi. Tentu, ada yang senang dan mendukung, dan tidak sedikit pula yang menolak dan menentang.

Pro dan kontra adalah hal yang biasa dalam demokrasi. Nasdem sebagai partai politik punya hak untuk mencalonkan Anies. Sebaliknya, Anies pun berhak diusung oleh Nasdem. Selanjutnya, terserah masyarakat mau pilih atau tidak.

Mengapa Anies?
Namun, mengapa Anies? Anies dikenal luas sebagai akademisi dan penggerak Indonesia mengajar. Tutur bahasanya memang terkesan santun dan intelek.

Ia pernah menjabat sebagai menteri pendidikan. Apakah ia sukses? Publik bisa memberikan penilaian tersendiri. Namun, sependek ingatan banyak orang, tak ada terobosan berarti yang ia lakukan ketika mendapatkan amanah itu.

Lalu, Anies melangkah ke balai kota Jakarta. Kemenangannya sebagai gubernur DKI menuai banyak kritik. Sebab, orang yang terkesan santun dan intelek ini tak sungkan memakai politik SARA. Rakyat DKI Jakarta terkotak-kotak dalam gheto agama karena permainan politik yang jauh dari santun dan intelek.

Saat menjadi orang nomor satu DKI Jakarta, apa yang dilakukan Anies? Apakah ia terbilang sukses? Orang partai bisa sebut Anies sukses. Namun, rakyatlah yang berhak menilai.

Hemat saya, Anies memang pandai beretorika. Namun, Anies bukan tipikal pemimpin yang pandai menerjemahkan retorika ke dalam kerja nyata. Jakarta terus menjadi kolam raksasa saat hujan. Tak ada perbaikan signifkan kalau dibandingkan dengan dua gubernur sebelumnya. Beberapa wilayah di DKI Jakarta kembali kumuh, termasuk tempat kami bermukim di Jakarta Pusat.

Selain itu, ada beberapa mata anggaran yang justru harus dipertanyakan, dan KPK didorong untuk memperkuat bukti dan memeriksa Anies. Pemerintahan Anies belum bisa dikatakan bersih. Entah Anies yang pintar mengelak, atau ada yang kurang cerdas dan bernyali dalam mengusut, sehingga Anies terus melaju di arena balapan. Dugaan-dugaan ini masih harus dibuktikan.

Baca juga:  Pergeseran Preferensi Pilihan Politik Kaum Muda dan Transformasi Parpol

Namun, harus diakui, Anies memang popular. Mulutnya manis berkata-kata dengan runut. Di politik, memang yang bermulut manis bisa laris. Apalagi, manis memainkan isu-isu primordial.

Nasdem Partai Restoratif?
Dengan mengusung Anies apakah Nasdem cukup meyakinkan publik sebagai partai yang restoratif sebagaimana jargon yang diusungnya? Apa yang mau direstorasi bersama Anies?

Partai-partai di Indonesia masih kerap terbelenggu secara ideologis, namun sangat pragmatis dalam tindakan politik, termasuk Nasdem dalam hal ini.

Dikatakan terbelenggu secara ideologis, sebab partai-partai di Indonesia masih suka mengusung ide “yang nasionalis” dan “yang agamis”. Dua idea ini masih dianggap berseberangan, dan belum diolah secara konstruktif. Seolah-olah yang nasionalis itu tidak agamis. Sebaliknya, yang agamis itu tidak nasionalis.

Namun, dalam praktik, keduanya kerap bercampur secara sembarangan demi sebuah kemenangan yang amis. Partai-partai membangun koalisi tanpa idealisme yang konstruktif. Yang dikejar hanya kursi. Ini sebetulnya yang menjadi tujuan utama banyak partai, bukan kesejahteraan rakyat dan kebaikan bersama seperti yang mereka kampanyekan.

Nasdem tampaknya masih terbelenggu dengan jargon-jargon ‘nasionalis’ dan ‘agamis’, dan Anies tampaknya cukup sesuai untuk bermain di area ideologis itu. Padahal, semestinya Nasdem menukik ke dalam realitas yang kompleks di tengah masyarakat; dan tidak menyederhanakan realitas itu ke dalam jargon-jargon sempit.

Sejatinya, masyarakat membutuhkan restorasi terus menerus. Pembangunan yang dilakukan Jokowi selama sepuluh tahun dengan segala plus minusnya harus dilanjutkan dengan lebih baik. Dan itu membutuhkan figur yang tidak hanya manis bicara dan pintar berpolitik, tetapi juga bersih dan giat bekerja untuk mengusahakan kesejahteraan dan keadilan bagi seluruh masyarakat.

Sampai di sini, kita berharap semoga pengalaman Jakarta tidak terulang untuk se- Indonesia.

Baca juga:  Libido yang Membuncah

Penulis: Dr. Hariman A. Pattianakotta (Koordinator Komite Pemilih Indonesia Jawa Barat, Dewan Pakar Perkumpulan Senior GMKI)

Foto: KOMPAS.COM/NURSITA SARI

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.