Press "Enter" to skip to content

Seni, Agama, dan Budaya: Tiga Aspek Tak Terpisahkan

Seni, Agama, dan Budaya. Tiga aspek berbeda namun berjalan bersandingan di Abad ke-21. Dibawakan oleh 3 pembicara ulung, yaitu Dr. Ismet Zaenal Effendi, Dr. Marisa Rianti Susanto, dan Pdt. Dr. Hariman A. Pattianakotta.

Dalam talkshow yang dilaksanakan Senin (26/9) lalu di Gedung B, FSRD Maranatha ini, ketiga pembicara mengemukakan pendapat mereka yang menarik dipandu oleh Basar Daniel, selaku moderator dan Editor in Chief  FOKAL.info.

Ismet, selaku Kaprodi Seni Rupa Murni, mengatakan bahwa seni terdiri dari pemahaman logika dan etika. Dengan begitu, esens estetika pun muncul sebagai jembatan antara keduanya. Maka dari itu, bisa disimpulkan bahwa seni memiliki keseimbangan.

Di dalam seni, tidak ada hitam dan putih, surga dan neraka, benar atau salah. Seni memiliki pemikiran estetika dan merupakan sarana setiap orang untuk mengekspresikan diri,” katanya.

Dari perspektif sastra dan budaya, Marisa yang merupakan Kaprodi Sastra Jepang menganjurkan kita untuk tetap berbaur namun tidak mencampuri urusan orang lain. Hal ini bertujuan untuk menjaga kestabilan antar individu.

Jika kita lihat, masyarakat yang terdiri dari berbagai latar belakang memiliki tujuan kepentingan masing-masing. Namun, jangan sampai kita ikut campur dalam urusan orang lain,” ajaknya.

Hariman, pendeta universitas, mengatakan bahwa dalam beragama kita tetap masih memerlukan logika. Justru tanpa logika, beragama menjadi berbahaya. Begitupun dengan budaya dan etika, mereka tak dapat lepas dari agama. Harus terjadi kesinambungan antara ketiga hal ini.

Banyak orang yang pergi ke gereja setiap minggu atau shalat setiap Jumat, namun mereka tidak menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Terlihat disini bahwa mereka tidak menerapkan ketiga hal ini secara berkesinambungan,” katanya.

Di akhir sesi, setiap pembicara memberikan kata penutup yang sangat bermakna. Dalam konteksnya masing-masing, ketiga hal yang menjadi topik pembicaraan kali ini memang sangatlah berkaitan. Sebagai manusia kita harus dapat menyeimbangkan logika, etika, dan estetika.

Saat dimintai untuk membuat karya kecil, beberapa peserta cukup antusias dalam melaksanakannya. Ada yang menggambar pulau, angklung, candi, sampai membuat tulisan singkat yang atraktif.

Mudah-mudahan, seni, agama, dan budaya, dapat terus berjalan secara berkesinambungan. **auh