Membantah Kotornya Stereotip Manusia Mengenai Babi

Stereotip mengenai babi memang cukup banyak. Faktanya, banyak dari mitos tersebut tidak benar adanya.

Kebanyakan orang Indonesia memiliki stereotip bahwa babi merupakan hewan kotor. Mereka beranggapan bahwa babi berkubang di dalam kotorannya sendiri dan bau.

Fiuh… begitu banyak stereotip kotor babi dari manusia. Namun, apakah semua hal itu benar? 

Lumpur Membuat Kotor
Babi memang sangat suka berkubang dalam lumpur. Mereka hanya membaringkan tubuh dan berguling-guling di lumpur yang kotor seharian. Apa alasan mereka melakukan itu?

Babi merupakan hewan yang memiliki sedikit kelenjar keringat. Ini menyebabkan tubuh mereka untuk sulit memproduksi keringat saat panas. Maka dari itu, mereka perlu berkubang dalam lumpur dan air untuk menjaga suhu tubuh tetap dingin. Selain itu, hal ini ditujukan untuk menghindarkan kulit mereka dari terbakar sinar matahari.

Dengan berkubang di lumpur, suhu tubuh mereka dapat turun sebesar 3,6 derajat Celcius. Jumlah ini tentu akan sangat membantu babi untuk tetap merasa sejuk. 

Namun ternyata bukan itu saja. Babi berendam di dalam lumpur untuk menghilangkan parasit di tubuh mereka. Selain itu, hal ini dilakukan untuk menandai teritori mereka.

Lumpur memang kotor, namun ini tidak ada hubungannya dengan anggapan bahwa babi itu adalah binatang yang kotor dan jorok.

Pemakan Kotoran
Sebagaimana layaknya binatang, insting utama mereka adalah untuk bertahan hidup. Namun, bukan berarti babi ingin memakan kotoran mereka sendiri. Ini merupakan stereotip mengenai babi yang cukup menjengkelkan, karena tidak benar adanya.

Menurut penelitian, 90% makanan babi terdiri dari tumbuhan. Bahkan, babi-babi di sebuah kebun binatang di Swiss terkenal dengan kebersihan mereka. Saat seseorang memberikan apel yang terkena lumpur, mereka mencuci apel tersebut terlebih dahulu, baru memakannya.

Baca juga:  Seberapa Signifikan Peristiwa Rengasdengklok?

Babi bisa jadi memakan kotoran mereka sendiri. Namun, hal ini disebabkan karena perawatan peternak yang kurang baik. Mereka terpaksa melakukannya karena kekurangan makanan yang diberikan atau sempitnya kandang.

Orgasme Selama Satu Jam
Stereotip mengenai babi yang dikatakan manusia bahkan sampai pada aspek orgasme. Sebetulnya, mengapa manusia begitu tertarik dengan hal ini?

Faktanya, babi jantan memang bisa melakukan orgasme hingga 20 menit di alam liar. Ini dapat terjadi saat pembuahan yang tidak direncanakan oleh para peneliti atau peternak. Sementara itu, babi jantan yang melakukan pembuahan secara terencana hanya bisa melakukan orgasme selama 6 menit.

Babi itu Bodoh
No, no, no! Tidak sama sekali. Ini merupakan stereotip yang salah. Babi merupakan hewan kelima tercerdas di muka bumi, lho

Dalam sebuah penelitian di International Journal of Comparative Psychology, babi memiliki kemampuan kognitif yang kompleks, sehingga bisa dikategorikan cerdas. Selain itu, babi juga terbukti lebih pintar daripada anjing karena dapat mengingat nama mereka hanya dalam kurun waktu 2 minggu. 

Terlebih lagi, mereka dapat bermain game secara lebih baik dari primata lainnya, karena memiliki kecerdasan layaknya seorang balita. Ditambah, mereka juga merupakan makhluk sosial, seperti manusia.

Jadi, stereotip babi yang diucapkan manusia itu tidak benar adanya. Semua yang disebutkan dapat disangkal melalui penelitian dan fakta yang telah tersedia.

Mari sama-sama mengedukasi diri agar tak mudah termanipulasi oleh perkataan fiktif orang lain. **auh

Foto: Pixabay

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.