Press "Enter" to skip to content

Tantangan Jadi Jurnalis dan Penulis di Era Digital

Jadi jurnalis itu banyak resikonya. Kalau tidak hati-hati, bisa dapat teguran keras dari banyak pihak,” tutur Daniel Andreand, Reporter Tribun Jabar.

Kalimat itu disampaikan oleh Daniel saat menjadi salah satu pembicara di pelatihan menulis yang diadakan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Kristen Maranatha, pada Jumat siang (5/8). Pelatihan yang bertema Menulis Kreatif di Era Digital itu diikuti oleh dosen dan mahasiswa yang merupakan pengurus media kampus, baik sebagai content creator, copywriter, maupun jurnalis.

Menjadi jurnalis dengan spesialisasi berita hukum dan kriminal di Tribun Jabar selama 6 tahun, Daniel telah merasakan manis pahitnya dunia jurnalistik.

Jika kita harus turun ke TKP kejadian bom di suatu daerah dan ingin mendapatkan bukti/foto, apakah kita rela mengorbankan diri untuk melangkah melewati batas polisi?” Daniel mencontohkan.

Ia pun pernah memiliki pengalaman mendapatkan sebuah berita di rumah sakit, mengenai seorang anak yang menelan jarum. Saat proses pencarian dan wawancara, dia harus melakukan sejumlah kamuflase dengan persetujuan narasumbernya.

Rekan-rekan jurnalis yang lain sempat kesal kepada saya, karena hanya saya yang berhasil mendapatkan berita tersebut, yang lain tidak. Saat ada berita lain setelah itu, saya tidak mendapatkan informasi lagi dari mereka. Mau bagaimana lagi, memang begitu resikonya,” katanya sambil tersenyum.

Daniel menambahkan bahwa seorang jurnalis harus menghidupi elemen-elemen utama jurnalistik, di antaranya menyampaikan kebenaran, selalu disiplin untuk melakukan verifikasi data dan setia kepada masyarakat. Hal-hal ini akan membantu seorang jurnalis untuk terhindar dari resiko berat yang mungkin timbul.

Pelatihan Menulis Kreatif di Era Digital, Universitas Kristen Maranatha (5/8).

Selain Daniel, Basar Daniel dan Risdo Simangunsong dari FOKAL.info turut menjadi narasumber yang menjelaskan cara membuat caption dan penulisan opini yang menarik untuk dibaca.

Risdo menjelaskan mengenai berbagai macam hal yang berhubungan dengan caption mulai dari pembuatan, aspek-aspek, hingga dampaknya. Basar melanjutkan sesi dengan menjelaskan mengenai berita dan opini. Dia mengatakan bahwa apa yang kita tulis dapat sangat berpengaruh pada para pembaca. Maka dari itu, berita dan opini yang menarik sekaligus bermanfaat dapat memberi hal positif bagi orang lain.

Buatlah sebuah tulisan yang memiliki makna positif bagi orang lain. Jika kita sedang patah hati, sedih, dan kesusahan, cobalah untuk menulis sesuatu untuk mengungkapkan perasaan tersebut, agar audiens yang membaca dapat terinspirasi” ujarnya.

Pelatihan yang terbilang singkat ini memberikan wawasan baru bagi peserta. Wakil dekan FSRD Maranatha, Isabella Isthipraya, berharap hal-hal baru dari pelatihan ini dapat menjadi inspirasi dalam pengerjaan media kampus.

Kita harus selalu membuat konten-konten keren. Mungkin ke depannya kita akan membuat stimulus seperti lomba menulis untuk semakin melatih dan mengasah kemampuan pengurus media,” tutur Isabella. **auh