Saat ini, Indonesia sedang berkembang meraih kemajuan teknologi digital. Namun, kekurangan sumber daya manusia yang “melek” teknologi digital menjadi penghambat atas pergerakan tersebut. 

Dilansir dari Katadata (4/8), Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Digital, Ketenagakerjaan, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Mohammad Rudy Salahuddin mengatakan bahwa sampai tahun 2030, Indonesia masih membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital.

Rudy menambahkan negeri ini harus menggali potensi diri yang ada, sehingga potensi tersebut bisa digunakan di tempat yang sesuai. Hal ini juga dapat mengantisipasi kekurangan talenta di tahun 2030 mendatang. 

Potensi pengembangan digital ini sangat besar. Dalam kajian Alfa Beta 2021 yang dikutip Rudy, disebutkan bahwa sumber daya manusia yang memiliki kemampuan digital, dapat berkontribusi sebesar 1.965 triliun terhadap PDB di Indonesia. Ini dapat ditingkatkan menjadi 4.434 triliun jika percepatan digital bisa dilakukan segera.

Sehingga kita harus bekerja, not business as usual,” ujar Rudy.

Digital talent dapat diasah melalui logical thinking, kemampuan numerik, kemampuan literasi, dan masih banyak lagi. Beberapa kemampuan digital tersebut di antaranya adalah Product Marketing, Digital Marketing, Software Development, Web Development, dan Artificial Intelligence.

Hambatan dalam pengembangan talenta digital sendiri diakibatkan oleh beberapa faktor, seperti rendahnya latar belakang pendidikan dan kemampuan literasi masyarakat, adanya gap antara pembelajaran di sekolah dan kemampuan yang dibutuhkan di bidang kerja dan tidak meratanya sarana dan prasarana ke pelosok negeri.

Pemerintah Indonesia terus mengupayakan berbagai cara untuk menjembatani kesenjangan ini. Salah satunya lewat kerja sama dengan perusahaan-perusahaan telekomunikasi. Dalam keterangan Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dedi Permadi, Staff Khusus Bidang Kebijakan Digital dan Sumber Daya Manusia Kementerian Kominfo menyebut bahwa kerja sama itu telah dibentuk sejak awal 2020.

Baca juga:  Indonesia Pernah Menjajah Timor Leste, Harus Disangkal?

Pemerintah sedang mengupayakan layanan terbaik bagi masyarakat untuk mengakomodir adanya kelas-kelas online. Pemerintah juga telah berbicara dengan perusahaan-perusahaan telko di Indonesia untuk memberikan subsidi dan menawarkan paket-paket khusus selama masa pandemi Covid-19,” jelas Dedi. 

Namun, apakah upaya itu sudah cukup? **auh

Foto: (Shutterstock/ Rawpixel)

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.