Energi Baru Terbarukan  (EBT) krusial untuk segera digunakan oleh Indonesia karena pasokan minyak yang semakin berkurang. Kekurangan ini merupakan alarm bagi Indonesia untuk segera bertindak.

Indonesia sangat kaya dalam hal EBT. Potensi gelombang laut contohnya. Meski demikian, pembangkit listrik gelombang laut sejauh ini hanya menghasilkan 0,3 MW energi listrik atau baru 0,002% dari potensinya yang diperkirakan bisa mencapai 18 GW.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Rida Mulyana, beralasan bahwa pemanfaatan EBT masih terkendala mahalnya teknologi dan masih sangat jarang penggunaanya. 

Saya menunggu dulu teman-teman Balitbang, masih penelitian dong, yang susah teknologi. Kan sudah banyak, tapi semuanya kembali lagi ke ekonominya. Canggih sih canggih, tapi kalau mahal ngapain juga, karena masih jarang masih mahal,” ujar Rida sebagaimana dikutip IEC.

Namun, kondisi ini bukanlah hal yang bisa terus dibiarkan sembari menunggu. Ketua Komisi VII DPR RI, Sugeng Suparwoto, mengatakan bahwa keberadaan energi alam (minyak, gas, dan batu bara) Indonesia sudah sangat terbatas dan kita harus segera melakukan sesuatu mengenai hal tersebut. 

Untuk masuk ke EBT itu sebuah keharusan kalau Indonesia mau selamat,” ungkap Sugeng dalam wawancara Kamis (4/8).

Ketersediaan pasokan energi terutama minyak bumi haruslah dijamin oleh negara, karena saat ini konsumsi minyak terus maju seiring dengan bertumbuhnya ekonomi negara. Cadangan minyak saat ini hanya tersisa sekitar 2,5 miliar barel, sedangkan konsumsi masyarakat per harinya bisa mencapai 1.370 barel.  

Terjadi gap antara lifting dalam negeri dengan konsumsi yang sangat tinggi. Terjadi kesenjangan kurang lebih 700 ribu barel per hari untuk minyak kita dan itulah yang kita impor, setiap hari kurang lebih 700 ribu barel baik berupa minyak mentah maupun BBM jadi,” ungkapnya.

Baca juga:  Pengusaha Habis Napas di Akhir Juni

Saat ini terjadi kenaikan harga minyak yang turut disebabkan oleh perang antara Rusia dan Ukraina. Parahnya, harga gas pun meningkat drastis hingga mencapai angka US$1.100 per metrik ton, sedangkan dalam APBN hanya ditetapkan sebesar US$593 per metrik ton.

Maka dari itu, alternatif yang terpenting saat ini adalah dengan beralih menggunakan EBT agar masyarakat Indonesia dapat terus menikmati fasilitas yang selama ini didapatkan sekaligus demi menjaga kestabilan ekonomi negara. **auh

Foto: Pixabay

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.