Press "Enter" to skip to content

Ade Armando, Perjuangan Demokrasi, dan Barbarisme Politik

Ade Armando dihajar, babak belur! Kehadirannya bukan untuk ikut berdemo, tetapi mau melihat langsung demonstrasi mahasiswa di gedung DPR RI. Dalam wawancara sebelum dikeroyok, ia merasa perlu mendukung aksi mahasiswa yang menolak isu presiden tiga periode.

Penganiayaan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menyusup dalam aksi mahasiswa itu adalah wujud paling biadab dari barbarisme politik. Korban tidak hanya dipukuli hingga babak belur, tetapi sekaligus ditelanjangi. Kehormatannya dibuka. Hal ini sama dengan tindakan pemerkosaan terhadap perempuan dalam kejahatan perang untuk menundukkan dan mengeksploitasi lawan.

Ade Armando adalah sosok akademisi yang memberikan diri terhadap penegakan demokrasi dalam politik Indonesia. Ia bukan tipikal akademisi yang hanya berteori di ruang-ruang kelas, tetapi terjun langsung ke dalam realitas.

Ia tak segan menyatakan dukungan kepada Presiden Joko Widodo untuk membangun demokrasi yang substantif. Ia pun tak surut nyali ketika harus bertukar pandangan dengan kelompok yang anti dengan kebhinekaan.

Tak berlebihan jika Ade Armando disebut sebagai pejuang demokrasi. Ia menyebarkan pikiran-pikiran kritisnya di ruang-ruang virtual. Ia sangat kreatif memanfaatkan platform digital untuk mengajak masyarakat luas berpegang pada Pancasila dan konstitusi.

Ia tak jemu-jemu mengajak seluruh elemen bangsa ini untuk tidak saling membidatkan atau mengkafirkan, sebab selain kita semua sama-sama anak kandung ibu Pertiwi, kita juga diciptakan oleh Allah yang maha kasih. Karena itu, tak perlu saling menghakimi.

Kehadiran Ade Armando di gedung DPR RI saat demonstrasi adalah wujud konsistensinya memperjuangkan demokrasi yang konstitusional. Ia tidak hadir sebagai pendemo, tetapi setuju dengan mahasiswa yang menentang upaya dari parpol dan figur tertentu yang menggelindingkan isu “Jokowi Tiga Periode”.

Presiden Jokowi sendiri sudah menyatakan akan tegak lurus dengan konstitusi. Sayangnya, aksi mahasiswa itu sudah disusupi juga oleh kelompok yang anti demokrasi, yang selama ini bertujuan memakzulkan Jokowi sebagai presiden.

Baik kelompok yang menghendaki Jokowi tiga periode maupun kelompok yang ingin menggulingkan Jokowi sama-sama inkonstitusional. Kelompok-kelompok ini hanya memanfaatkan demokrasi untuk kepentingan kelompoknya yang sempit.

Diduga kuat bahwa kelompok yang hendak menjatuhkan Jokowi adalah barisan sakit hati yang mendapat dukungan dari kelompok ideologis yang selama ini berseberangan dengan pemerintahan Jokowi.

Sementara, kelompok yang memainkan isu Jokowi tiga periode adalah oligarki yang selama ini mendukung Jokowi. Mereka sudah berinvestasi besar dan tidak mau rugi apabila proyek-proyek mereka gagal kalau terjadi pergantian pemerintahan atau presiden.

Ade Armando tidak berada dalam barisan dua kelompok di atas. Ia justru bagian dari kelompok kritis yang ingin membangun demokrasi yang sehat. Menentang baik kelompok ideologis yang hendak menurunkan Jokowi, maupun kelompok yang berkeinginan memperpanjang masa pemerintahan Jokowi.

Duri Dalam Daging
Setelah menapaki era Reformasi sejak 1998, ternyata kita masih dihadang oleh kelompok-kelompok opurtunis dan ideologis yang memanfaatkan juga membajak demokrasi. Bahkan, demokrasi kita masih dikotori dengan anarki dan tindakan barbarisme seperti yang dialami Ade Armando.

Mungkin untuk jangka waktu lama, bahkan selamanya, kita masih akan menghadapi kelompok-kelompok oportunis dan ideologis-anarkis. Mereka ini seumpama duri dalam daging demokrasi.

Duri dalam daging itu tidak boleh disepelehkan.  Perihnya dirasakan seluruh tubuh. Bahkan, demokrasi bisa terinfeksi dan mati. Karena itu, duri dalam daging itu harus dicabut.

Proses politik dan demokrasi sejauh ini telah menyodorkan dengan gamblang mana saja yang menjadi duri. Kita hanya membutuhkan komitmen dan keberanian politik untuk mencabutnya.

Secara konstitusional, kita sudah memiliki regulasi. Itulah aturan main yang melaluinya kita membangun demokrasi yang sehat. Hukum inilah yang harus menjadi panglima.

Presiden Jokowi sudah menyatakan akan patuh pada konstitusi. Para oportunis dan kaum ideologis-radikal juga mesti patuh pada regulasi dan komitmen kebangsaan kita.

Penulis: Hariman A. Pattianakotta (Pendeta Universitas Kristen Maranatha, Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePi), Jawa Barat)
Foto: Dok. Liputan6.com

Baca juga:  Cerita Panjang Penolakan atas PT Toba Pulp Lestari (TPL)