Press "Enter" to skip to content

Ganjar Pranowo Itu Biasa Saja

Ganjar Pranowo sempat menjadi bintang media di parlemen era presiden SBY. Ketika partainya di luar pemerintahan, Ganjar – bersama tokoh PDI – Perjuangan lain seperti Maruarar Sirait, Eva Sundari, Budiman Sudjatmiko dan Rieke Diah Pitaloka – kerap tampil mewakili suara kritis dan progresif. Wajah lumayan muda dari partai yang kerap dicitrakan sebagai partainya wong cilik.

Waktu itu tontonan perdebatan politik memang belum sebanal kini, yang serba reaktif dan reduksionis. Ganjar tampil lebih kalem dan santun, dibanding rekan-rekannya tadi yang biasanya keras bersuara. Tapi kini, saat yang lain sudah jarang terdengar, Ganjar justru punya panggung tersendiri saat menjadi pejabat daerah.

Apa yang istimewa dari seorang Ganjar?

Tampil biasa
Di jagad twitter, orang sering menyebut pria kelahiran 28 Oktober 1968 ini sebagai salah satu pejabat yang mahir berkomunikasi. Ia cukup responsif dengan aduan warga, juga proporsional menanggapi kritik. Meski jumlah pengikut hanya sekitar 2,3 jutaan, ia dianggap mengerti kultur dunia kicau: tampil biasa, baik saat dipuji, dihina maupun didebat.

Menjabat gubernur, citra orang biasa itu juga kerap ia unggah. Dokumentasi kegiatannya kebanyakan berisi obrolan dengan warga biasa. Ganjar tak segan makan di warung rumahan sembari mempromosikan usaha kecil dan pariwisata lokal. Ayah satu anak ini pun berkali-kali melakukan inspeksi jalan sembari mengajak warga berkegiatan.

Ia tak sungkan mengangkat kisahnya sebagai bocah dari desa di lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Soal namanya yang semula Ganjar Sungkowo, yang berarti ganjaran atas hal yang menyedihkan.

Ibu sempat mengalami kecelakaan waktu mengandung saya, sempat jatuh,” ujar Ganjar mengungkap latar namanya. Nama Sungkowo itu nampaknya membebani. Ganjar kecil kerap sakit-sakitan. Ayahnya kemudian mengganti nama belakang itu dengan Pranowo.

Baca juga:  Durian di Indonesia Paling Bervariasi

Tidak jelas mengapa sang ayah, yang adalah seorang polisi dengan pangkat rendahan, memilih nama Pranowo yang harusnya dipakai untuk anak kedelapan (pranowo artinya sebelum sembilan).

Padahal saya ini anak nomor lima dari enam bersaudara. Tidak mengerti juga kenapa beliau kasih nama itu,” kenang alumnus Fakultas Hukum UGM ini sembari menyebut pergantian nama yang agak ajaib seperti itu memang biasa terjadi di masyarakat pedesaan Jawa.

Citra biasa?
Tapi apakah Ganjar juga menunjukkan kalau ia ada di pihak warga biasa? Nampaknya, jawaban untuk hal ini lebih samar.

Saat berkuliah, Ganjar memang aktif dalam aksi mahasiswa. Ia suka berdemo memprotes kebijakan kampus dan pemerintah. Ia pun sempat menjadi simpatisan PDI dan berdiri di sisi Megawati saat mengalami represi Orde Baru. Tak peduli meski ayahnya seorang polisi dan kakaknya seorang hakim. Selama menjadi anggota dewan pun, Ganjar cukup lugas menjelaskan posisinya yang pro rakyat.

Tapi, namanya sempat terseret dalam beberapa kasus besar seperti aliran dana BI dan korupsi e-KTP, meski tidak terbukti. Saat menjadi gubernur, ia dinilai tidak pro-rakyat dalam kasus pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, atau sengketa agraria di Desa Wadas.

Mantan ketua alumni UGM (KAGAMA) ini dinilai sekedar pencitraan saat menutup jembatan timbang Subah, Kabupaten Batang yang dianggap menjalankan pungli. BPK mencatat penutupan itu berimbas kehilangan pendapatan daerah hingga 10 miliar rupiah.

Namun, gubernur yang satu ini juga kaya terobosan. Jawa Tengah merupakan pelopor kredit UMKM dengan bunga terendah, hal yang kini ditiru banyak provinsi lain. KPK pernah memberi penghargaan pada Pemda Jateng sebagai pelapor gratifikasi terbanyak. Langkah ini dinilai baik dalam mencegah korupsi. Yang paling terlihat, kebiasaan kiriman parcel hari raya kini sama sekali hilang di lingkup Pemda Jateng.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo (foto: depokrayanews.com)

Potongan langsung ASN untuk bantuan sosial, desa tangguh bencana, pembangunan rumah sakit bertaraf internasional serta kartu tani yang membuat hanya petani yang boleh mengakses pupuk bersubsidi adalah beberapa inovasi lain dari Ganjar. Beberapa bahkan diadopsi jadi program nasional.

Bisa menjadi presiden?
Menilik pamor Ganjar, tak heran ia potensial didapuk menjadi calon presiden. Gayanya yang biasa, dianggap sesuai dengan era kepemimpinan Indonesia pasca Joko Widodo. Pasalnya, semenjak presiden Jokowi, gaya pejabat yang lebih merakyat dan tidak terlalu protokoler sudah menjadi trend. Ganjar masuk dikategori itu.

Isu ini sempat panas, apalagi saat Ganjar dianggap bakal melenceng dari partai untuk pencalonan. Meski isu itu reda, curi start nampaknya akan tetap dianggap ada. Segala kegiatan sang gubernur kini dianggap publikasi menuju 2024. Apalagi sejumlah survey calon presiden selalu menempatkan namanya di posisi tiga besar.

Masih agak jauh kalau bicara peluang Ganjar menjadi presiden. Namun, kalau mau utak-atik gathuk, jangan-jangan almarhum ayahnya, tidak sembarang kasih nama pengganti. Mungkinkah pranowo itu maksudnya untuk presiden yang kedelapan? Wallauhualam. **arms/bdjt