Yang Tersisa di Balik Trend Spirit Doll

0
19
foto: unsplash

Spirit Doll kini tengah digandrungi selebritas di negeri ini. Nama-nama tenar seperti Ivan Gunawan, Ruben Onsu, Soimah, Lucinta Luna, Roy Kiyoshi, Celine Evangelista hingga Nora Alexandra sedari beberapa minggu lalu bercerita soal boneka anak yang diperlakukan sebagai bayi kecil itu.

Ivan Gunawan, misalnya, mengaku memiliki dua boneka spirit doll yang diberi nama Miracle dan Marvelous. Tak tanggung-tanggung desainer dan presenter kondang ini bahkan menggaji baby sitter untuk merawat dua ‘bayi’-nya. Kedua spirit doll itu selalu dimandikan dan diberi ruang tersendiri di rumahnya.

Harga spirit doll tentu makin fantastis. Satu boneka itu bisa mencapai puluhan juta rupiah. Trend ini sontak dikomentari berbagai kalangan. Ada yang menyebut ini hanya bagian dari trend sesaat seperti banyak barang ‘tak penting’ sebelumnya. Ada pula yang menilai ini hanya pengalihan isu. Tak sedikit pula yang menyinggung kepantasan hal tersebut dinilai dari keyakinan religius, mengingat boneka itu dianggap ‘diisi’ mahluk halus.

Psikolog Kumala Windya R, menilai hal ini menjadi salah satu contoh orang dewasa memiliki kebutuhan untuk mengekspresikan emosinya untuk menyayangi dan merawat (nurturance need).

Pada tahap dasar, kebutuhan merawat ini diekspresikan pada benda pasif, misalnya boneka. Namun pada tahap selanjutnya, orang dewasa diharapkan untuk mengekspresikan kebutuhan tersebut pada pihak yang lebih memberikan respons aktif, misalnya tumbuhan, hewan, dan orang lain,” ungkap Kumala pada Rabu (5/1).

Meski demikian, psikolog yang juga pengajar di Univesitas Mercu Buana Yogya ini juga meyakini ada sebab lain, yaitu kebutuhan imajinasi, dimana pemilik spirit doll bisa mengimajinasikan diri sebagai caregiver atau peran tertentu. Bisa pula hanya sekadar mengikuti trend.

Baca juga:  Kata Facebook: Netizen Indonesia Paling Demen Konten Terkait Selebriti

Kemungkinan sekadar mengikuti trend juga dibenarkan oleh Psikolog Universitas Muhammadiyah Malang, Hudaniah. Menurutnya fenomena ini marak di masyarakat karena dipopulerkan oleh public figure.

Sebagian orang mungkin memiliki kebutuhan nurturing atau perlu bermain peran imajinatif untuk pemulihan diri. Hal yang terkait dengan pengembangan inner child yang cukup dikenal dalam dunia psikologi.

Spirit doll memang beberapa kali dipakai untuk tujuan terapi yang demikian. Namun, biasanya para penggunanya tidak terlalu banyak memamerkan hal tersebut karena merupakan ‘ritual’ yang lebih personal.

Yang jelas, fenomena ini memang ramai membuka obrolan publik kita di pergantian tahun 2022. Belum jelas kapan akan surut, akan tetapi pasti harga boneka ini masih meroket.