Press "Enter" to skip to content

Industri Kreatif Harus Inklusif

Kolaborasi dalam industri kreatif memang sudah menjadi keharusan di masa kini. Kerja lintas disipliner, semisal fashion, film, desain grafis, musik, sastra, performance dan banyak bidang lain, telah menghasilkan terobosan baru.

Keterbukaan ini tentu mendorong semangat inklusif, yang terus melintas batas. Tidak hanya mendorong pelaku industri kreatif saling belajar satu sama lain, namun juga semakin peduli pada inklusivitas dalam konteks yang lebih luas, yaitu kemanusiaan.

Semangat inilah yang ingin ditampilkan Program Studi D3 Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Unviersitas Kristen Maranatha saat menggelar webinar bertajuk Inclusivity within Creative Industry, pada Kamis siang (2/12).

Awalnya kami hanya memfokuskan pada inklusivitas dalam fashion design, karena ini merupakan rangkaian dari acara Evolusia, yang menampilkan karya fashion design dari mahasiswa program D3 FSRD Maranatha,” ungkap ketua Prodi D3 FSRD Maranatha, Yosepin Sri Ningsih, M.Ds saat membuka acara. Namun, panitia menyadari inklusivitas tidak hanya terkait fashion design, namun menjadi semangat industri kreatif kekinian.

Webinar menghadirkan tiga pemateri, yaitu Bima Nurin Aulan dari Wanara Studio (desain grafis), Keni Soeriaatmadja (produser independen) dan Tommy Ambiyo Tedji (Byo fashion design).

Bima memulai dengan berbagi bagaimana studio design yang dirintisnya bersama rekan, bertumbuh dengan kolaborasi. Meski berfokus pada design grafis, Wanara sempat bekerja sama dengan mitra yang menggali keragaman budaya Indonesia. Keterlibatan disiplin lain menjadi kunci perkembangan studio ini.

Lebih jauh, Keni berbagi pengalaman bagaimana karya kreatif punya peran dalam inklusi sosial. Saat turut mengelola Nu Art, misalnya, Keni sempat bekerjasama dengan Bioskop Harewos program menonton film buat rekan tunanetra. Dimana ada rekan nonton yang menjelaskan suasana film yang tidak ada dalam dialog.

Baca juga:  Menko PMK Minta Kemendag Seragamkan Harga Tes Swab

Pengalaman itu membuka mata saya,” ungkap Keni. Ternyata cukup banyak produk kreatif yang belum bisa diakses oleh kalangan yang selama ini termarginalkan. “Membangun kota, komunitas dan kemajuan itu tidak bisa sendirian, harus kolaboratif dan inklusif,” lanjutnya.

Lain lagi dengan Tommy, desain fashion dari Byo yang dikembangkannya banyak mengapropriasi karya-karya kreatif dari film science-fiction, fisikia, astronomi, hingga arsitektur. Pendekatan disiplin geometri yang dipakai, cukup banyak membantunya dalam pengembangan ini.

Inklusivitas itu memungkinkan kita untuk melakukan perlintasan yang tidak terbatas. Bisa termasuk inklusi sosial, kolaborasi lintas disiplin, hingga lintas medium dan genre yang tidak lagi dibatasi,” tutur Tommy. **RS