Merayakan Hari Toleransi Bersama Obrolan Aktivis: Keep Updated, Being Trendy in Humanity

0
14
foto: Temu Kangen online Jaringan Lintas Iman Nasional dengan seruan Keep Updated, Being Trendy in Humanity.

Sejak 1996, UNESCO mengajak warga dunia untuk memperingati Hari Toleransi Internasional 16 November. Di Indonesia, biasanya para pegiat isu lintas agama dan kemanusiaan memakai peringatan ini sebagai sarana untuk mengkampanyekan keberagaman. Di tahun ini hal tersebut pun dikerjakan oleh banyak komunitas di berbagai kota.

Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) bersama aliansi Bandung Lautan Damai (BALAD) juga mengerjakan ragam kegiatan kampanye. Perayaan ini pun dirangkai dengan peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Hari HAM Internasional.

Namun, di puncak perayaan 16 November lalu, BALAD dikhususkan bagi pegiat isu lintas iman dan kemanusiaan. Acara tersebut berupa Temu Kangen online Jaringan Lintas Iman Nasional dengan seruan Keep Updated, Being Trendy in Humanity. 

Lewat kegiatan ini, silaturahmi, sinergi maupun update situasi terkini dimungkinkan lewat interaksi yang santai. Di dalamnya sekitar 25 orang para pegiat dari berbagai lembaga di tingkat Jawa Barat dan Nasional berbagi kondisi, capaian, maupun tantangan yang dihadapi isu lintas agama maupun isu kemanusiaan lainnya.

Sejumlah catatan disampaikan oleh para pegiat dalam konsolidasi ini. Meski masa pandemi membuat sempit ruang perjumpaan, namun hal ini masih menyisakan sejumlah kesempatan dan potensi.

Cerita rekan-rekan muda di Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) misalnya, menunjukkan bagaimana kolaborasi lintas-batas jauh lebih dimungkinkan dengan situasi seperti sekarang. “Banyak hal yang tidak terbayang dulu bisa kita kerjakan bareng, kini jauh lebih terbuka,” ungkap Khunzy dari YIPC.

Antusiasme kaum muda juga menjadi catatan tersendiri. Karena ternyata isu-isu keberagaman, kesetaraan gender, serta sejumlah isu progresif lain sebenarnya menjadi perhatian kaum muda (Gen-Z) meski dengan ekspresi yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Baca juga:  Ada 102 Daerah di Indonesia yang Siap New Normal

Kolaborasi isu, memang ini masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup panjang. “Umumnya karena yang membahas perdamaian antar agama misalnya, masih belum juga memiliki perspektif kesetaraan gender atau isu, lain.” ungkap Redy dari Kami Damai.

Kebutuhan konseptual maupun praksis untuk kolaborasi lintas isu juga ini menjadi perhatian tersendiri dari Samsul Maarif (CRCS UGM).  “Kita masih membutuhkan simpul di konsep maupun praksisnya untuk kolaborasi dan literasi lintas isu. Karena yang kita hadapi umumnya adalah sistem dan kultur yang sama, yaitu oligarki-kapitalisme-patriarkhi yang mengeksploitasi dan menindas kelompok yang termarginalkan selama ini,” ungkap Samsul.

Yohanes, koordinator BALAD tahun ini, merasa senang dengan cerita yang saling update ini. “Ini jadi bekal kami panitia yang masih muda untuk mengerti dan memperdalam isu terkait toleransi,” ungkapnya.