Press "Enter" to skip to content

Industri Kreatif Pasca Pandemi, Tak Berarti Anti Manual

Awal mulai design fashion dan ilustrasi sepenuhnya manual. Eh, belakangan malah jadi keseringan digital. Asyik aja untuk memilih-milih warna dengan banyak percobaan.

Irva Lestari berbagi pengalamannya ‘mendigitalisasi’ prosesnya berkarya. Pemilik brand OH.IRV ini menceritakan sejumlah dimensi berbeda yang dirasakannya saat menggunakan teknik manual maupun digital dalam menggambar, terutama dalam pemilihan warna yang merupakan ciri utama designnya.

Bagi alumnus Universitas Kristen Maranatha itu, masuk dunia ilustrasi memang merupakan langkah yang terbilang kepepet, karena kebutuhan. Sehingga adaptasi dan improvisasi mutlak diperlukan.

Berbeda dengan Irva, Mohammad Taufiq justru tetap mempertahankan banyak proses manual dalam karyanya. Ilustrator yang akrab disapa Emte ini mengakui proses menggambar secara manual punya ceruk tersendiri, yang tidak tergantikan. Mulai dari cover buku, film hingga ragam karya personal memiliki kekuatan karakter tertentu saat dikerjakan manual.

Obrolan ini ada dalam webinar bertema Digital dan Manual dalam Industri Kreatif yang digelar oleh Program Studi D-3 Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Kristen Maranatha, Kamis (25/11) lalu.

Webinar diselenggarakan lewat platform zoom meeting dan dihadiri sekitar 190-an peserta. Berti Alia Bahaduri, dosen fashion design, menjadi moderator yang memandu kedua pelaku industri kreatif tadi berbagi pengalaman.

Webinar Digital dan Manual dalam Industri Kreatif.

Perkembangan industri kreatif selama masa pandemi memang memberi ciri tersendiri. Seruan untuk segera berpindah dan melakukan semua proses secara digital banyak disampaikan. Padahal, melampaui perdebatan manual versus digital, industri kreatif tetap membutuhkan sentuhan dan inovasi kreatif apapun proses yang digunakan.

Ketua Program Studi D-3 FSRD Maranatha, Yosepin Sri Ningsih, M.Ds, juga menekankan hal tersebut saat membuka webinar. “Peran industri kreatif ada pada penyampaian ide. Tidak perlu terdorong gembar-gembor harus serba digital, manual tetap penting,” ungkap Yosepin.

Dalam webinar ini, hal tersebut segera terlihat. Terutama saat kedua pembicara, yang merupakan praktisi industri kreatif, berbagi pengalaman dalam membangun brand untuk karyanya. Para peserta nampaknya tidak membedakan proses digital maupun manual. Umumnya antusias bertanya dan flash-back pengalaman kedua pembicara ini saat merintis usaha kreatifnya. **RS