Apa Artinya Presidensi Indonesia di G20? Tak Perlu Terlalu Bangga

0
41
foto: g20-indonesia.id

Bangga, Indonesia menjabat presidensi G20.

Ungkapan senada itu berseliweran di lini masa media sosial beberapa hari belakangan. Nampak sejumlah kekaguman disampaikan, mengingat ini kali pertama Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah sekaligus memimpin agenda pertemuan antar negara ekonomi besar dunia itu selama satu tahun ke depan, dimulai dari Desember 2021 sampai November 2022.

Momen itu diresmikan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 ke-16 di Roma, Italia, pada akhir Oktober lalu. Meski demikian, sebenarnya penetapan Indonesia sebagai presidensi G20 tahun 2022 telah ditentukan pada KTT G20 ke-15 Riyadh, Arab Saudi pada November 2020.

Kalau ditilik, sebenarnya tidak ada kesuksesan tersendiri untuk menjabat presidensi ini. Dalam kesepakatan G-20, posisi host leader itu dibagi bergantian ke lima grup negara anggota. Indonesia yang tergabung di Grup 5 bersama RRT, Jepang dan Korea Selatan, merupakan satu-satunya negara yang belum pernah menjadi tuan rumah KTT G20.

Namun, tentu saja, kesempatan Indonesia menjadi host bisa memberikan sejumlah keuntungan. Selain bisa mengarahkan agenda pembicaraan ekonomi global yang menguntungkan bagi negara seperti Indonesia, forum ini juga dapat menjadi sarana mempromosikan potensi ekonomi Indonesia kepada investor global.

Dalam konferensi pers bulan lalu, Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan peran presidensi Indonesia di G20 akan berdampak baik dari sisi ekonomi, pembangunan sosial maupun peran politis negara kita.

Di aspek ekonomi, beberapa manfaat langsung adalah peningkatan konsumsi domestik, penambahan PDB, dan pelibatan tenaga kerja di berbagai sektor,” ungkap Airlangga. Menteri memperkirakan dampak ini akan lebih besar dibandingkan saat Indonesia menjadi tuan rumah International Monetary Fund (IMF)-World Bank Annual Meeting di Nusa Dua, Bali, tahun 2018 lalu.

Baca juga:  Di Balik Perang Opini RUU Cipta Kerja

Pertemuan ini, menurut Airlangga, juga menjadi momentum bagi Indonesia untuk menampilkan keberhasilan reformasi struktural dalam kemudahan investasi. Indonesia juga berpeluang untuk mendorong agenda pembahasan terkait dengan produksi dan distribusi vaksin, guna menghadapi pandemi Covid-19.

Dalam presidensi ini, Indonesia akan mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger” (Pulih Bersama, Bangkit Perkasa). Tema ini menekankan pentingnya pemulihan ekonomi dan sosial menjadi tanggung jawab bersama sebagai warga dunia.

Jadi, tidak perlu bangga berlebihan. Jauh lebih baik jika pemerintah bekerja keras agar posisi presidensi G20 ini bisa memberi dampak seperti yang diharapkan.