Ada 58 Orang Indonesia di Daftar Ilmuan Berpengaruh Dunia

0
22
foto: freepik

Akhir Oktober lalu, Universitas Stanford mendaftarkan nama-nama ilmuan dari seluruh dunia yang masuk dalam top 2% di tiap bidang ilmunya. Data World Ranking of Top 2% Scientists in 2021 dikumpulkan secara polimer dan merupakan kerja dari tiga ilmuwan Stanford, Jeroen Bass, Kevin Boyack, dan John P.A. Ioannidis.

Studi ini mendata 190.063 orang ilmuan dari 149 negara. Yang menjadi indikator pemeringkatan adalah jumlah publikasi ilmiah, serta jumlah sitasi atas publikasi ilmiah yang dibuat para ilmuwan.

Ada 58 nama orang Indonesia dalam daftar tersebut yang meliputi sejumlah bidang keilmuan. Kampus-kampus ternama Indonesia menyumbangkan sejumlah perisetnya dalam daftar tersebut.

Universitas Gadjah Mada (UGM), misalnya, menyumbangkan tiga nama. Hal ini diakui oleh Direktur Penelitian UGM, Prof. Dr. Mustofa, Apt., M.Kes. “Masuknya peneliti UGM ke dalam Top 2% World Rangking Scientist 2021 membuktikan bahwa peneliti UGM diakui secara internasional dengan publikasi yang banyak disitasi para peneliti lain di seluruh dunia,” ungkap Prof. Mustofa dalam keterangannya di situs resmi UGM

Kampus lain juga menyumbangkan nama ilmuwannya. Institut Teknologi Bandung (ITB), menyumbang 10 nama perisetnya. Ada pula Universitas Diponegoro (UNDIP) menorehkan tiga nama, atau Universitas Sumatera Utara (USU) yang menyumbang dua nama, juga Universitas Islam Indonesia (UII) yang menyumbang satu nama.

Tak hanya berbasis kampus, nama ilmuan Indonesia juga ada dari sejumlah lembaga dan balai penelitian semisal Center for International Forestry Research, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Eijkman Institute for Molecular Biology.

Jumlah ini memang masih terbilang sedikit, namun sedikit banyak menggambarkan semangat riset yang semakin tinggi di kalangan akademis Indonesia, meski di tengah banyak keterbatasan. Dalam lingkungan riset di Indonesia saat ini, kolaborasi memang kunci yang tidak bisa ditawar.

Baca juga:  Merinci Kasus Penyelewengan Dana BOK

Sebagai contoh, Prof Is Fatimah, seorang ilmuwan kimia yang aktif mengajar di FMIPA UII. Hingga tahun 2021, Is berhasil mengantongi setidaknya 1.304 jumlah sitasi, 14 indeks-h Scopus, dan 17 indeks-h Google Scholar.

Dalam 2 tahun terakhir saya memang lebih banyak berkolaborasi dengan kolega-kolega yang ada di luar negeri terutama untuk sharing facility. Tampaknya memanfaatkan kolaborasi yang positif itu sangat penting untuk membangun ide-ide pengembangan keilmuan,” ungkap Is Fatimah di situs resmi UII.