Press "Enter" to skip to content

Hemat di Era Digital: Belanja Online Godaan Terbesar

Belanja online merupakan kegiatan yang mengalami kenaikan signifikan selama masa pandemi Covid-19. Dalam catatan Kementerian Koperasi dan UKM, demikian pula YLKI, kenaikan di jumlah nominal transaksi mencapai angka 30%, sementara aktivitasnya, menurut catatan Kemenkominfo bahkan naik hingga 400%.

Sebagian kenaikan memang hanyalah merupakan peralihan dari apa yang biasa dibeli secara offline menjadi online, mengingat alasan protokol kesehatan. Namun, ada pula yang memang tambahan transaksi karena makin mudahnya orang berbelanja dengan berbagai platform digital.

Berhemat di era digital tentu punya tantangan tersendiri. Zaman yang serba mudah ini, terkadang dapat membuat ketagihan belanja. Mulai dari apa yang sering disebut ‘reward untuk diri sendiri’ hingga jor-joran diskon kadang justru membuat pengeluaran lebih besar. Belum lagi iklan yang begitu spesifik menarik minat yang berseliweran di lini masa. Penggunaan dompet digital yang memudahkan transaksi sering pula berarti memudahkan diri untuk menjadi konsumtif.

Ada sejumlah langkah yang perlu diperhatikan agar bisa tetap berhemat di tengah godaan bertubi-tubi di era digital.

Yang pertama, tentu kita perlu merapikan penggunaan platform dompet digital kita. Sebisa mungkin hanya gunakan satu platform dengan kemudahan yang optimal. Atau jika harus menggunakan beberapa platform, bagilah penggunaannya misal untuk transportasi, untuk kebutuhan harian, dan lain sebagainya. Biasanya semakin banyak uang kita tersebar, kita cenderung makin boros mengeluarkannya.

Yang tak kalah penting dan bersamaan dilakukan adalah memulai dengan perencanaan anggaran. Disiplinkan diri untuk menabung, baik untuk simpanan reguler maupun yang dialokasikan untuk investasi. Lalu prioritaskanlah kebutuhan dan pengeluaran.



Upayakan kebutuhan dan iuran rutin maupun tabungan reguler semua terbayar dengan autodebit sehingga kita bisa langsung melihat nominal tersisa, yang tentunya lebih rendah ketimbang pendapatan awal. Secara psikologis ini akan mengerem kita untuk terburu-buru berbelanja begitu kita menerima pendapatan.

Baca juga:  Jelajah Kyoto: Mencari Tengu ke Kurama

Saat membeli barang yang harganya cukup besar, kita bisa mempertimbangkannya lagi. Konsultan keuangan pribadi sering memberi nasehat: “Apakah saya sanggup membelinya dua kali dalam waktu dekat?” sebagai saringan soal barang/jasa yang kita rasa butuh namun jumlahnya cukup besar.

Kita juga dapat meminta bantuan pasangan, teman dekat atau keluarga yang kita percaya untuk membantu mengamati pola pengeluaran dan belanja kita. Tetapkan dahulu tujuan kita berhemat dan mintalah mereka memantau dan membantu kita tetap di jalur rencana tersebut.

Biasakan pula jika memperoleh kenaikan pendapatan, kita otomatis menaikkan dana yang dialokasikan untuk tabungan. Demikian pula jika ada penghasilan tambahan insidental lebih baik memikirkannya untuk tabungan atau investasi terlebih dahulu, ketimbang langsung membelanjakannya.

Foto: pixabay

 

Bagikan