Press "Enter" to skip to content

Saatnya Belajar dari China. Bukan dari AS!

Pada 15 Agutus 2021, pimpinan Taliban mendeklarasikan bahwa mereka sudah berhasil merebut Kabul, ibu kota Afghanistan. Artinya pemerintah Afghanistan dukungan Amerika Serikat telah berhasil ditendang keluar dari Afghanistan. Amerika Serikat pun ikut kabur. Inilah kali ketiga Amerika Serikat (AS) salah besar dalam politik luar negerinya.

Yang pertama di Vietnam Selatan, lalu di Irak dan terakhir di Afghanistan. Dalam ketiga kasus ini AS tidak berdaya. Kekuatan senjata yang hebat dan super canggih tidak berguna. AS seperti petinju gaek yang dihajar habis hingga tak berdaya. Lalu apa yang kita pelajari dari peristiwa ini?

Setelah runtuhnya Uni Soviet, AS menjadi satu-satunya super power dunia. Memang, AS super hebat dari segi apa pun. Secara politik, AS dianggap ‘mbahnya’ demokrasi. Secara ekonomi, AS negara paling kaya.

Secara sosial, AS negara paling majemuk. Secara intelektual, AS adalah negara paling modern dengan berbagai inovasi science dan teknologinya. Secara spiritual, AS adalah negara dimana agama-agama dapat berkembang bebas. AS menjadi ‘sorga’ di bumi. Banyak orang ingin beremigrasi ke AS.

Seorang teman asal Jepang yang saya tanya, “Mengapa Anda mau ke AS?” Menjawab tegas, “AS adalah the dream land, the dream country.” Saat menjejakkan kaki di AS, si Jepang berkata, “The dream come true.” AS adalah super power dalam segala hal.

Ironi justru muncul di sini. Saat menjadi super power, politisi dan rakyat AS justru terjebak dalam idolatri. Mereka mengagungkan AS. Status super power dianggap mapan. Akan terus begitu sampai kapan pun. AS akan selalu perkasa. Ini ilusi besar. Megalomania! Tidak ada yang abadi di dunia ini. Dunia akan selalu berubah!

Baca juga:  Yang Kurang dan Yang Berlebihan di UU ITE

Untuk mempertahankan status super power, budget pertahanan dinaikan besar-besaran. Rusia, China dan kelompok radikal Islam dijadikan ‘setan’ untuk menjustifikasi penambahan budget militer. Ini kebijakan politik tuna moral. Minus keadilan. Tidak realistis.

Efeknya, ekonomi AS morat-marit. Kesenjangan yang kaya dan miskin makin melebar. Keresahan sosial di dalam negeri merebak. Kekerasan rasial meningkat pesat. Aparat keamanan dibuat tidak berdaya. Militer terpaksa diturunkan untuk mencegah anarkisme. Para kapitalis oligarkis bergembira. Rakyat AS merana. Bila, Joe Biden dan politisi AS tidak segera merevisi kebijaksanaannya, AS bisa menjadi seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Hancur lebur!

Di bawah Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat pesat. Infrastruktur mengalami perbaikan luar biasa. Perusahaan-perusahaan besar berhasil diambil alih. Indonesia nampak tangguh. Jokowi memang luar biasa! Hanya Jokowi perlu diingatkan. Jangan seperti Joe Biden yang terjebak dalam ilusi seolah semua OK.

Harus diingat, bangsa ini merdeka dan menjadi kuat bukan karena senjatanya, tetapi karena kecerdasannya. Saat pandemi Covid-19 menyerang, yang dibutuhkan bangsa-bangsa bukan peningkatan budget senjata. Yang dibutuhkan budget untuk memerdekakan rakyat banyak dari kemiskinan, ketidakadilan dan dari kebodohan. Ini PR besar yang menjadi amanat Konstitusi. Ini harus dituntaskan!

Kini kita harus belajar dari China yang sibuk meningkatkan SDMnya. Bukan dari AS yang sibuk meningkatkan angkatan perangnya! Bila kemiskinan dan ketidakadilan sosial tidak ditangani, keresahan sosial akan meningkat. Lalu, seperti di AS, kerusuhan rasial dan agama akan meledak.

Kita butuh kebijakan politik yang memihak rakyat. Bukan memihak pada kecenderungan megalomania para politisi. Pada kebajikan politik Jokowi dan kabinetnya, harapan rakyat digantungkan. Merdeka!

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty (Intelektual Kristen)
Foto: BBC News

Bagikan