Press "Enter" to skip to content

Dari Euro ke Bu Risma: Rasialisme Terpendam Itu Jelas Ada!

Suasana gelaran Piala Eropa kemarin masih segar di ingatan kita.

Italia menang lewat drama adu pinalti. Fans garis keras Inggris – yang sedari dulu sulit diatur – kesal sangat dan sebagian berlaku rasis. Menyerang fans Italia. Lebih parah lagi, memaki para penendang pinalti gagal di timnas mereka, yang kebetulan semuanya berkulit hitam.

Perilaku itu dikecam oleh banyak pihak. Umumnya kecaman itu menegaskan bahwa rasialisme tidak mencerminkan sikap orang Inggris. Negara Tiga Singa telah berkembang menjadi masyarakat yang plural, dimana sikap merendahkan ras lain adalah wujud ketertinggalan.

Tapi bagaimana, jika kita berkata segala bentuk kecaman itu hanyalah tameng apropriasi? Sejatinya rasialisme memang masih tersimpan di dalam benak banyak warga, hanya etika dan aturan publiklah yang membatasi ekspresinya. Saat batasan bocor – dalam krisis atau eforia – sikap rasis pun mewujud. Bahkan dalam keseharian, ia sebenarnya tetap ada, namun menampil dengan sangat samar.

Tak perlu jauh-jauh. Di Euro Cup kita lihat sendiri bagaimana sikap fans Inggris yang selalu mengejek lagu kebangsaan tim lain. Atau cetusan bernuansa klaim football is coming home. Atau kalau mau lebih nakal berpikir, jangan-jangan Gareth Southgate sengaja menunjuk penendang kulit hitam agar kalau gagal, kemarahan fans teralih ke masalah rasial, sehingga orang bisa saling mendebat sembari menutup fakta tidak ada pemain Inggris yang punya mental baja dalam adu pinalti.

Apa analisis ini terlalu maksa? Tidak jika kita memahami bahwa sikap dan prasangka rasialis itu sangat sulit untuk dicabut sepenuhnya. Ia bisa tersembunyi dengan banyak aspek, lebih jauh karena ini tidak melulu masalah ras – tapi struktur penindasan dan keadilan yang sangat sistemik seiring proses sejarah panjang. Sepakbola dengan segala eforia, hanyalah pengungkap. Masalahnya ada di masyarakat.



Di Indonesia, hal serupa juga terasa. Tak usahlah dibicarakan bagaimana suporter bola kita yang di hidup keseharian masing-masing bisa sangat sopan bahkan tunduk, namun beda saat jadi pendukung yang memegang panji klub idola. Mereka bisa memaki luar biasa kasar, entah bertendensi seksual ataupun SARA. Apa agresi itu muncul begitu saja? Tidak, ia tersimpan begitu dalam, di situasi normal akan selalu teredam.

Baca juga:  Tidak Ada Kebangkitan Nasional di 2020

Tak hanya eforia sepakbola. Situasi krisis pun bisa mengantar pada ekspresi senada. Lihat saja sejumlah konflik bernuansa rasial atau SARA lainnya di Indonesia. Atau bahkan dalam celetukan ketika marah sebagaimana baru diekspresikan menteri sosial kita, Tri Rismaharini, saat mengancam akan memindahkan bawahannya ke Papua.

Bukan bermaksud menyamakan Bu Risma dengan fans fanatik sepakbola atau pelaku kerusuhan SARA. Tapi sejauh apapun pembelaan dan alasan yang bisa dibuat, ekspresi beliau itu tetap menunjukkan kesan penyepelean terhadap wilayah paling timur negeri kita ini.

Tak perlu malu mengakui. Toh dalam sejumlah riset keberagaman menunjukkan kalau di Indonesia orang terdidik sekalipun, tetap punya prasangka rasial buruk terhadap sejumlah etnis, terutama Papua dan Tionghoa. Bahkan jika dipetakan dalam kluster etnis seperti Jawa, Batak, Sunda, Minang, Bugis, Ambon dll pun tetap saling kena stigma tertentu.

Cara terbaik mengikis ini bukanlah dengan menutup-nutupi seolah kita beradab dan negeri ini bebas rasialisme. Namun jujur mengakuinya. Meski itu memalukan dan menyakitkan. Meski kita selalu bisa perlahan mengikisnya. **RS

Foto: gilabola.com

Bagikan