Press "Enter" to skip to content

Bawa Semangat Sisingamangaraja XII, Aktivis Toba Jalan Kaki Ajak Tutup TPL

Togu Simorangkir, bersama rekan-rekan melakukan aksi nekat. Sejak Senin lalu (14/6) mereka mulai jalan kaki dari Toba menuju Jakarta. Niatnya jelas: meminta pemerintah segera menutup PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Waktu-waktu ini bagi mereka yang menamai diri Tim AJAK Tutup TPL, juga terasa spesial. Momen long-march ini berdekatan dengan kenangan akan wafatnya Sisingamangaraja XII, tokoh yang menjadi simbol perlawanan masyarakat Batak.

Momentum 114 tahun Sisingamangaraja XII gugur menjadi semangat bagi Tim AJAK Tutup TPL untuk terus melakukan perlawanan terhadap perusakan lingkungan hidup. Semoga semangat Sisingamangaraja XII selalu ada di nafas perjalanan dari Toba ke Jakarta ini,” ungkap Togu Simorangkir Kamis (17/6), saat timnya telah mencapai wilayah Sipirok, Tapanuli Selatan.

Peristiwa sejarah yang dirujuk Togu memang punya makna tersendiri. Sebagaimana diketahui pada 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran Si Onom Hudon, desa kecil di perbatasan Tapanuli Utara dan Dairi saat ini.

Dikisahkan, pada nafas terakhirnya, raja Bakkara yang 29 tahun gigih melawan Belanda itu menyeru lantang: “Ahu Sisingamangaraja.” (Akulah Sisingamangaraja). Dalam pemaknaan khas Batak, sang pahlawan bukan sekedar berebut wilayah atau posisi, namun gigih mempertahankan tanah air, adat kebiasaan, keyakinan, hukum, kemerdekaan dan kesetaraan – yang menyatu utuh sebagai identitas dan kesehariannya.

Semangat inilah yang diharapkan oleh Tim Ajak Tutup TPL juga mewujud dalam perjuangan masyarakat Toba dan sekitarnya untuk merawat lingkungan serta tatanan masyarakat Batak.

Nampaknya, seruan mereka disambut positif oleh banyak orang. Anita Hutagalung, yang juga turut dalam aksi menceritakan bagaimana di sejumlah desa mereka disambut dan dijamu dengan simpatik oleh banyak sahabat. Ini membuatnya seolah dapat kekuatan besar meski menempuh perjalanan yang terbilang berat.



Anita menyebut alasannya ikut aksi Ajak Tutup TPL adalah kerinduannya agar keindahan Danau Toba bisa dinikmati generasi mendatang, jauh lebih baik dari kondisi sekarang. “Sekarang hutannya rusak, air surut dan ini sudah jadi masalah global,” serunya.

Baca juga:  Kenapa Prostitusi Artis Begitu Heboh di Indonesia?

Ajak Tutup TPL merupakan kolaborasi dari sejumlah aktivis lingkungan, masyarakat adat dan pegiat pemberdayaan masyarakat di wilayah kitaran Danau Toba. Mereka merupakan konsolidasi dari bertahun-tahun gerakan protes atas izin dan praktik operasi yang dikerjakan perusahaan perintis pabrik kertas pertama di Indonesia itu.

Sejak saat masih bernama PT Inti Indorayon Utama, perusahaan ini kerap diprotes karena permasalahan tanah masyarakat adat serta dampak pada lingkungan terutama surutnya air dan pembuangan limbah. Sempat ditutup pada masa pemerintahan presiden BJ Habibie, perusahan kini kembali beroperasi dengan nama PT TPL. **arms/bdjt

Foto: Facebook/Tota Manurung, Togu Simorangkir

Bagikan