Press "Enter" to skip to content

Warisan Pdt. SAE: Anti Mayoritas-Minoritas sampai Pendeta Harus Bayar Pajak

Dalam dialog yang setara, Pak Nababan menegaskan tidak relevan membahas soal mayoritas-minoritas.” Demikian Rm. Benny Susetyo, Pr membuka refleksinya, sebagai salah satu panelis dalam mengenang sosok alm. Pdt. SAE Nababan.

Dalam diskusi virtual Malam Refleksi 88 Tahun Pdt. SAE Nababan, yang berlangsung Senin malam (24/5) itu, Rm. Benny memaparkan bagaimana pendeta senior HKBP tadi merupakan salah satu ikon perintis dialog lintas agama di Indonesia.

Mungkin bagi kebanyakan orang di tahun 1980-an, dialog lintas agama adalah sekedar demi suasana yang tak bergejolak. Tapi, Pdt. SAE, menurut Rm. Benny, meyakini bahwa komunitas keagamaan terpanggil untuk memperjuangkan keadilan, mewujudkan perdamaian dan mendorong perbaikan struktur sosial.

Maka apa yang dikerjakannya mungkin menggoncang kenyamanan. Kita tentu tahu salah satunya saat ia menghadapi represi Orde Baru,” kenang Rm. Benny.

Di forum yang sama, aktivis 1998, Dr. Barita Simanjuntak mengakui warisan Pdt. SAE Nababan juga dirasakannya dalam perjuangan reformasi. Meski bekerja senyap, Barita menyadari apa yang ditampilkan oleh Pdt. SAE amat memotivasi mahasiswa kala itu untuk berstrategi.



Mungkin ada untungnya, HKBP sempat mengalami krisis dan perlawanan dari rezim Orde Baru. Jadi, ada umat Kristiani yang pernah punya pengalaman berhadapan dengan penguasa yang otoriter. Ini sangat membantu banyak gerakan mahasiswa dan pemuda saat itu,” ungkap Barita.

Hal itu juga dikenang oleh Pdt. Basa Hutabarat, salah seorang staf saat Pdt. SAE menjabat sebagai pimpinan HKBP. Pdt. Basa menyebut bagaimana Pdt. Nababan amat menekankan kebebasan dan kemandirian gereja dalam masyarakat demokratis, tanpa boleh diintervensi kekuasaan negara.

Tapi, Pdt. Nababan tidak sekedar mendorong agar gereja mandiri. Namun para pendetanya perlu memahami aturan negara dan kondisi masyarakat, agar relevan dan tidak mengkritik apa yang tidak diketahuinya,” ungkap Basa sembari mengingat bagaimana hal tersebut amat ditekankan dengan rinci oleh Pdt. SAE.

Contoh kecil seperti pendeta harus bayar pajak saja, amat ditekankan oleh Pdt. Nababan,” kenang Basa.

Harus diakui, warisan alm. Pdt. SAE memang sangat kompleks serta tersebar di banyak tempat. Ini didorong oleh berbagai peran yang diembannya semasa hidup. Berkiprah di banyak forum kekristenan nasional dan global, SAE juga merupakan salah satu pemimpin agama yang kritis menyuarakan keadilan dan penghargaan hak asasi manusia jelang era reformasi.

Foto: Pdt. SAE Nababan.

Pendeta yang bernama lengkap Soritua Albert Ernst Nababan itu baru saja berpulang pada Sabtu 8 Mei 2021 lalu. Momen diskusi yang dilakukan tepat pada perayaan ulang tahunnya ke-88 kali ini adalah wadah inventarisasi atas apa yang telah diteladankan pendeta kelahiran Tarutung 24 Mei 1933 itu.

Selain ketiga penyaji tadi, diskusi juga menghadirkan refleksi dari putra sulung Pdt. SAE, Hotasi Nababan, ketua umum PGI, Pdt Gomar Gultom, ketua STB HKBP, Pdt. Benny Sinaga, pendiri Rumah Milenial Indonesia Sahat Martin Philip dan Direktur ICJR, Erasmus Napitupulu. **arms

Bagikan
Baca juga:  Setahun Bagaimana Rapor Pemerintahan Jokowi-Ma'aruf Amin?