Press "Enter" to skip to content

Lewat Demonstrasi Buruh, Muchtar Pakpahan Membuka Keran Demokrasi

Cobalah mencari di mesin telusur “demonstrasi buruh Medan 1994.” Kemungkinan besar berita atau artikelnya akan menampilkan kata seperti “kerusuhan” atau “huru-hara” alih-alih “demonstrasi.”

Seperti kebanyakan kasus terkait buruh. Demonstrasi dan perjuangan hak seringkali terlupakan. Orang hanya mengingat rusuhnya dengan konotasi negatif.

Padahal, demonstrasi buruh di Medan itu merupakan perintis utama perjuangan reformasi. Eksponen aktivis 1998 mengakui, peristiwa ini sangat menginspirasi mereka dalam mengorganisasi demonstrasi. Sebab selepas Malari 1974 dan normalisasi kehidupan kampus, tidak pernah ada protes pada kebijakan pemerintah Orde Baru yang dilakukan secara massif seperti itu.

Selama dua pekan di April 1994, sekitar 6.000 buruh dari berbagai perusahaan di Medan dan kota sekitar melakukan mogok total, menuntut kenaikan upah. Ekonomi di kota terbesar di Sumatera ini nyaris lumpuh, menimbulkan kekhawatiran besar penguasa.

Dalang yang Siap Digantung
Siapa dalang peristiwa ini? Pemerintah Orde Baru menyeret puluhan orang, termasuk ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Cabang Medan, Amosi Telaumbanua dan yang paling disorot ketua SBSI Nasional, Muchtar Pakpahan. SBSI kala itu adalah organisasi buruh independen satu-satunya di Indonesia, setelah semua serikat buruh dipaksa dilebur ke dalam Serikat Pekerja Buruh Seluruh Indonesia (SPSI).

Muchtar diseret dengan ragam tuduhan. Mulai dari dalang kerusuhan, sampai asal-usul keluarganya yang dianggap punya kedekatan dengan komunis. Namun, ia tak gentar. Bahkan menyeru ke media: “Saya siap digantung!

Buntutnya lumayan panjang. Ia yang saat itu telah menjadi advokat dan dosen hukum di UKI harus mendekam di penjara selama sembilan bulan.



Ini adalah episode kedua pemenjaraannya. Episode pertama berlangsung selama beberapa hari di Januari 1994 saat ia ada di Semarang. Sementara yang paling panjang ada di periode 1996-1997. Dua kasus ini adalah terkait pemikirannya tentang demokrasi yang dianggap subversif oleh Orde Baru.

Baca juga:  Di Balik Perang Opini RUU Cipta Kerja

Lahir dengan Bebas
Ia dilahirkan dengan nama Bebas Pakpahan. Nama Muchtar menurut pengakuannya terjadi karena kesalahan pencatatan di ijazah. Sampai besar, Muchtar masih dipanggil dengan nama Bebas oleh orang di lingkar terdekatnya.

Namun, pemerintah Orde Baru menganggap perubahan nama ini adalah kamuflase. Orba menuduh orangtuanya, Sutan Johan Pakhpahan, adalah tokoh Buruh Tani Indonesia (BTI), organisasi sayap PKI yang terlibat dalam kerusuhan Bandar Betsy 14 Mei 1965.

Ini sebenarnya sulit dipastikan. Johan Pakpahan telah meninggal sejak Mucthar kanak-kanak. Di masa itu, keanggotaan petani di BTI adalah hal yang biasa, tidak mesti terkait komunisme. Kampung halaman Muchtar sendiri, di Bah Jambi, Simalungun berjarak 80-an kilometer dari Bandar Betsy.

Namun orang sudah mahfum. Hampir semua elemen perjuangan demokrasi yang menentang Orde Baru pasti akan dicap komunis oleh rezim.

Perjuangan Buruh Kekuatan Demokrasi
Sejatinya fokus suami dari Rosintan Marpaung adalah masalah hukum dan demokrasi. Seluruh studinya berkutat di dua hal itu. Disertasinya DPR Semasa Orde Baru, yang sempat diminta badan intelejen untuk direvisi, adalah puncak pemikirannya. Mungkin ia lebih mumpuni berperan sebagai pengacara, dosen atau politisi.

Namun, sebagaimana diakuinya Muchtar selalu merasa berhutang.

Sejak SMA hingga menyelesaikan kuliah, ia merasakan betul perjuangan sebagai warga miskin. Harus bekerja sambilan, termasuk menjadi tukang becak dan buruh lepas. Saat jelang kelulusan sarjana, ia bahkan tidak memiliki biaya sama sekali. Itulah momen dimana Muchtar bernazar pada Tuhan, jika berhasil lulus, hidupnya akan diabdikan untuk membela mereka yang miskin dan lemah.

Alasan ini mungkin terdengar spiritual, sebagaimana pribadinya yang terbilang religius. Sebagai seorang Protestan, Muchtar dikenal sangat menghayati imannya. Selama dipenjara, ia bahkan mencipta beberapa lagu rohani.

Baca juga:  Misteri Ronaldo dan Kegagalan Brasil di Piala Dunia 1998

Namun, melampaui itu, pria kelahiran 21 Desember 1953 ini dibawa untuk melihat sejatinya gerakan buruh adalah pilar kebebasan yang amat kuat. Bermula dari pendampingannya atas beragam kasus hukum buruh, Muchtar sadar jika buruh melek akan hak-haknya dan mampu mengorganisasi diri, kekuatan massifnya akan sangat dahsyat.

Itulah yang membuatnya menerima amanah dari sejumlah tokoh progresif seperti Gus Dur, Sabam Sirait, dr. Sukowaluyo Mintorahardjo, dan lain-lain untuk membentuk dan memimpin SBSI. Kiprahnya di SBSI lalu kemudian di Governing Body asosiasi buruh sedunia (ILO) jauh lebih dikenal ketimbang keterlibatannya di politik atau profesinya sebagai pengajar.

Saat Muchtar berpulang Minggu 21 Maret 2021, gerakan buruh Indonesia mungkin sudah punya cerita berbeda. Tapi tanpa gebrakan ini, keran demokrasi kita mungkin takkan pernah terbuka. **RS

Sumber Foto: MI/Usman Iskandar

Bagikan