Press "Enter" to skip to content

Mengenang Kesederhanaan Pak AR, Ketua Muhammadiyah Terlama

Soal kesederhanaan saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan Pak AR.

Komentar itu beberapa kali disampaikan mantan ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Ma’arif. Tiap kali Buya Safi’i dipuji soal kesederhanaan, ia selalu menyebut sosok Pak AR, sesama mantan ketua PP Muhammadiyah.

Pak AR yang dimaksud, bukanlah Prof. Amien Rais, yang lebih dikenal saat ini. Namun, pada sosok K.H Abdul Rozak Fachruddin, orang yang menjabat sebagai ketua Muhammadiyah terlama sepanjang 1968-1990.

AR Fachruddin memimpin Muhammadiyah di masa represi Orde Baru. Ia membawa organisasi ini tumbuh, terutama pada hal pengembangan pendidikan. Ia bisa tetap berjarak tanpa harus berkonfrontasi dengan rezim Soeharto.

Lahir di lingkungan abdi dalem keraton Pakualaman, Yogyakarta, Fachruddin lebih memilih hidup sederhana dan merintis pengabdian di Muhammadiyah dari bawah. Ia beberapa kali terjun sebagai pengajar sekolah dan mubaligh di berbagai pelosok.

Sederhana tanpa Amplop dan Rumah
Kesederhanaan pria kelahiran 14 Februari 1915 ini memang tidak kepalang tanggung. Sampai akhir hayatnya, keluarga Pak AR tidak memiliki rumah pribadi. Bahkan, sewaktu menjabat menjadi ketua PP Muhammadiyah, Pak AR sempat berjualan bensin eceran agar bisa membiayai kuliah anak-anaknya.

Bertahun-tahun berdakwah, ia hanya mengandalkan sepeda sebagai kendaraannya. Barulah di tahun 1970-an ia bersedia menerima hadiah sepeda motor dari rekannya seorang pengusaha.

Ia selalu menolak dikasih amplop sehabis ceramah. Kalau pun terpaksa harus menerima, uang itu sepenuhnya akan dibagikan ke para pegawai Muhammadiyah yang belum sejahtera atau ke sejumlah lembaga sosial organisasi ini.

Dalam testimoni, Fauzi, sang putra bungsu, mengaku pernah beberapa kali mengeluh soal sikap ayahnya ini.

Talang kok ora teles,” komentar Fauzi, yang secara harafiah artinya talang kok tidak basah. Ini merujuk sekian banyak sumbangan dan pemberian yang diterima Pak AR, tidak pernah dinikmati untuk keperluan pribadi, sepenuhnya untuk pengembangan Muhammadiyah.

Baca juga:  Soeharto Berhenti bukan Mundur

Ayahnya santai saja menjawab, dengan mengibaratkan dirinya sebagai talang plastik, jadi tidak akan basah biarpun tersiram air banyak.

Dakwah harus ikhlas dan tidak boleh menerima amplop,” demikian berkali-kali Pak AR menjelaskan pada anak-anaknya. Jika mau menerima amplop, takut menjadi kebiasaan, dan akhirnya mempengaruhi niat dakwah. Itu sangat berbahaya bagi keikhlasan seorang da’i.

Pendamping Kesederhanaan
Pak AR barangkali tidak akan bertahan dengan sikap teguh itu seandainya pendampingnya tidak juga punya keteguhan yang sama.

Siti Qomariyah, yang akrab disapa Bu Qom adalah seseorang yang sangat ikhlas mendukung dakwah. Tak jarang ia membantu ekonomi keluarga dengan berdagang di pasar maupun menjual hasil bumi.

Mantan jurnalis Republika yang juga murid Pak AR, Syaifuddin Simon, mengungkap bahwa keluarga Pak AR sebenarnya pernah mengumpulkan uang untuk membeli rumah sendiri. Namun, uang itu justru raib dibawa pengembang.

Bu Qom sempat menanyakan perihal rumah itu saat Pak AR baru saja pulang ceramah dari luar kota. Sang suami pun terdiam. Keriangan di wajahnya kelihatan pudar.

Bu, sabar ya. Soal rumah jangan dipikirkan lagi. Developernya lari. Tak usah disesali, Allah akan mengganti rumah kita dengan rumah yang lebih baik di sorga nanti,” hanya itu yang bisa dijawab Pak AR.

Kesedihan ini adalah hal yang terus disesali Bu Qom. “Saya sangat menyesal mempertanyakan rumah itu kepada Pak AR. Padahal Bapak masih capai, baru datang dari luar kota,” ungkapnya dalam testimoni pada sejumlah sahabat.

Bertahun-tahun setelah Pak AR wafat di 17 Maret 1995, Bu Qom masih sering menceritakan penyesalannya itu. Mungkin karena ini pula, ia memilih tidak meneruskan niat membeli rumah pribadi.

Baca juga:  Penyair Sapardi Djoko Damono Tutup Usia

PP Muhammadiyah pernah berencana membiayai pembangunan rumah keluarga Pak AR sebagai ungkapan terima kasih atas kepemimpinan di Muhammadiyah selama 22 tahun. Rencananya rumah tersebut dibangun di tanah yang cukup luas dekat kampus UMM Yogyakarta.

Namun Bu Qom menolak dengan halus usulan tersebut. Ia meyakini tanah itu akan lebih berguna untuk kampus atau organisasi Muhammadiyah. Atau mungkin karena ia sadar rumah di sorga jauh lebih berkah.

Saat Muhammadiyah kini telah merayakan 108 tahun keberadaannya di Indonesia, meneladani sikap zuhud seperti ini adalah inspirasi. **RS

Foto: Pwmu.com

Bagikan