bencana la nina

Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena La Nina akan mempengaruhi sejumlah wilayah di Indonesia.

Cuaca ekstrem disebut BMKG akan terjadi berupa hujan deras yang disertai petir dan angin kencang, jelang akhir tahun ini hingga awal tahun depan. Fenomena La Nina ini terjadi di periode awal musim hujan Indonesia. Akibatnya bisa meningkatkan jumlah curah hujan di sebagian besar wilayah.

Catatan historis menunjukkan bahwa La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40 persen di atas normalnya. Namun demikian dampak La Nina tidak seragam di seluruh Indonesia.

Kepala Bidang Diseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Hary Tirto Djatmiko, dalam keterangan resmi Kamis (22/10) menyebut wilayah di Aceh, pesisir Barat Sumatera Utara bagian utara Bangka, serta wilayah Selatan dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta sebagai wilayah yang paling berpotensi terkena dampak La Nina dalam waktu dekat, yaitu periode Oktober hingga November 2020.

Sementara wilayah Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur bagian barat, Kalimantan Utara bagian timur, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua, juga diperkirakan terkena dampak pada periode berikutnya di Desember 2020 hingga Ferbruari 2021.

Berdasarkan catatan historis data hujan Indonesia, pengaruh La Nina tidak seragam tergantung pada bulan, daerah dan intensitas La Nina,” ungkap Hary.

Kehadiran fenomena ini diperkirakan akan menghasilkan sejumlah bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang dan puting beliung. Hal yang tentunya mengancam sektor pertanian, transportasi dan keselamatan masyarakat.

Sebagai langkah mitigasi perlu dilakukan optimalisasi tata kelola air secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Danau, embung, sungai dan kanal untuk antisipasi debit air berlebih,” lanjutnya.

Baca juga:  Bagaimana Bali Setelah Pariwisata Dibuka?

La Nina yang merupakan istilah Spanyol secara harafiah berarti gadis kecil, merupakan kebalikan dari fenomena El-Nino (harafiah: bocah lelaki). Keduanya adalah anomali suhu air laut di wilayah Samudera Pasifik yang dekat dengan khatulistiwa.

Bila El-Nino, yang merupakan kondisi kenaikan suhu air laut, maka selama fenomena La Niña berlangsung, suhu permukaan laut di sepanjang timur dan tengah Samudera Pasifik yang dekat atau berada di garis khatulistiwa mengalami penurunan sebanyak 3-5°C dari suhu normal.

Pendinginan ini mengurangi potensi pertumbuhan awan di samudera Pasifik sebaliknya akan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Dalam pantauan BMKG dan sejumlah badan meteorologi internasional seperti JMA-Jepang, NOAA-Amerika Serikat dan BoM-Australia, fenomena La Nina di Samudera Pasifik kali ini masih tergolong berintensitas sedang. Pemantauan BMKG terhadap indikator laut dan atmosfer menunjukkan suhu permukaan laut mendingin dengan penurunan 0.5-1.5 derajat celsius selama 70 hari terakhir.

Meski demikian, Hary menghimbau agar pemerintah di tiap daerah dan masyarakat terus memonitor perkembangan cuaca untuk setiap 7 hari ke depan, bahkan jika perlu setiap 3-6 jam.

Hal ini dinilai penting untuk mengantisipasi fenomena bencana hidrometeorologi yang mungkin terjadi. **RS

Foto: Liputan6.com/Trieyasni

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.