Press "Enter" to skip to content

Saat Pekerja Indonesia Kehilangan Pekerjaan dan Kebahagiaan

Baru-baru ini Jobstreet telah menggelar survey terhadap 5.000 pekerja Indonesia. Hasilnya terbilang tidak mengejutkan.

Secara umum, aplikasi lowongan kerja dan karir itu menggarisbawahi tingginya pengurangan pekerja selama masa pandemi Covid-19. Country Manager Jobstreet Indonesia, Faridah Lim, menjelaskan lebih dari 50% tenaga kerja di Indonesia mengalami dampak pandemi, baik berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan sementara.

Pekerja yang sudah bekerja di industri di Indonesia yang terkena dampaknya sekitar 54%, atau secara spesifik, yang diberhentikan permanen 35% dan dirumahkan sementara 19%,” ungkapnya lewat keterangan resmi Jobstreet.

Faridah kemudian merinci lima sektor yang cukup terdampak yaitu industri hospitality, pariwisata, tekstil, makanan dan minuman serta konstruksi bangunan.

Yang paling terdampak justru mereka yang merupakan usia produktif. Sekitar 67% pekerja yang di-PHK atau dirumahkan ada di rentang usia 18-24 tahun,” lanjut Faridah.

Dampak ini juga lebih terasa pada mereka yang berpenghasilan rendah. Dimana ada sekitar 74% dari pekerja yang berpenghasilan di kitaran 2,5 juta per bulan mengalami PHK.

Tak hanya PHK dan merumahkan pekerja, sejumlah perusahaan juga melakukan pemotongan gaji untuk para karyawan, terutama selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan. Dalam catatan Jobstreet setidaknya ada 45% pekerja yang mengalami pemotongan gaji lebih dari 35% selama PSBB.

Kondisi ini tentu tidak membahagiakan. Catatan yang begitu kontras dari Jobstreet cukup mewakili, saat survey membandingkan tingkat kebahagiaan peserta atas kualitas hidup mereka sebelum dan selama masa pandemi.

Hasil riset menunjukkan hanya 38% pekerja yang masih merasa bahagia selama masa pandemi ini. Sedangkan sebelum terjadi pandemi, ada sekitar 93% responden yang merasa bahagia dengan kualitas hidup mereka.

Baca juga:  Amerika Mengancam Tidak Membayar Utang ke Tiongkok

Hal serupa juga terkait dengan dengan persepsi mereka atas pekerjaan. Sebelum pandemi ada 89% karyawan merasa bahagia dengan pekerjaan mereka. Namun, angka itu kini turun menjadi 49%. Meski demikian, penurunan ini tidak sedrastis penurunan kebahagiaan terkait kualitas hidup. Mengindikasikan pekerja mencoba memaklumi kondisi pekerjaan yang terdampak pandemi.

Farida memahami tantangan yang dihadapi masyarakat Indonesia di masa pandemi seperti ini. Kehilangan pekerjaan atau berkurangnya penghasilan tentu berpengaruh terhadap kebahagiaan pekerja. Ia berharap masyarakat Indonesia perlu terus bersikap positif serta memaksimalkan peluang demi bertahan di masa sulit seperti sekarang. **RS

Foto: Republika/Abdan Syakura

Bagikan