Range: Menggugat Kesuksesan Spesialis

0
22
david epstein

Mulailah sejak dini. Latilah diri terus-menerus. Kamu pasti akan sukses.”

Saran-saran ini sering dianggap sebagai resep kesuksesan di satu bidang. Tak jarang orangtua menerapkannya pada anak. Dimana anak diarahkan menekuni satu hal, seperti musik, matematika, bahasa seni, olahraga atau hal lain. Lalu menghabiskan waktu disana dan nanti akan menjadi spesialis yang amat berbakat.

David Epstein dalam buku Range juga mengakui adanya contoh orang yang berhasil dengan cara itu. Pegolf sohor Tiger Woods misalnya, telah belajar golf dari usia dua tahun. Ia menghabiskan masa kecil hampir sepenuhnya dengan berlatih golf dipandu sang ayah kemudian oleh pelatih profesional. Contoh lain adalah putri-putri keluarga Polgar, master catur asal Hungaria.

Ada yang disebut rumus 10.000 jam, yang menyerukan kita akan benar-benar mahir menguasai sesuatu saat telah melatihnya dengan jam sebanyak itu. Dunia nampaknya butuh orang yang mahir spesialis seperti ini.

Namun Epstein menunjukkan kenyataan lain yang terbilang mencengangkan. Dari penelusurannya pada sekian banyak atlet, seniman, musisi, penemu, dan ilmuwan paling sukses di dunia. Ia menemukan bahwa di sebagian besar bidang – terutama yang punya kompleksitas dan sisi tak terduga – yang lebih unggul justru adalah orang yang generalis, bukan spesialis.

Jurnalis investigatif di ProPublica ini menyebutnya sebagai model Roger. Dimana ia mengambil contoh petenis berbakat Swiss, Roger Federer.

Masa kecil Federer justru dihabiskan dengan banyak olahraga selain tenis sebelum akhirnya fokus pada tenis di usia remaja – usia yang terbilang terlambat jika dibandingkan atlet lain. Namun, menghabiskan waktu dengan berbagai macam olahraga, ternyata membantu kemampuan atletik Federer, demikian pula koordinasi mata dan tangannya.

Baca juga:  Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk Tidak Miskin

Para generalis seperti ini sering kali terlambat menemukan jalur mereka dan mencoba banyak bidang, alih-alih berfokus pada satu. Tapi imbas positifnya mereka jadi lebih kreatif, lebih gesit, dan mampu membuat kaitan konsep yang tidak bisa dilihat oleh para spesialis.

Ini ternyata menjadi kebutuhan tersendiri di masa sekarang, terutama di dunia kerja. Sebab di era disrupsi digital, makin besar kebutuhan untuk bekerja lebih fleksibel dan penuh penyesuaian akan ketidakpastian. Mereka yang hanya berfokus pada satu keahlian, apalagi banyak melibatkan pengulangan, akan semakin sedikit dibutuhkan.

Kita tentu tidak perlu tahu semua hal atau ahli dalam semua bidang. Tapi dunia masa kini mensyaratkan kita tahu bagaimana menyelesaikan masalah.

Dalam hal ini termasuk tahu soal di mana sumber informasi yang bisa kita manfaatkan, tahu di mana kita harus belajar bila diperlukan, dan tahu kepada siapa kita akan meminta bantuan. Ini juga menyangkut ketahanan mental kita dalam situasi trial and error.

Di Range, Epstein mengangkat ragam argumen yang dapat dirangkum dalam subjudulnya: “Mengapa menguasai beragam bidang bisa membuat kita unggul di dunia yang mengedepankan kekhususan bidang?

Argumen-argumen itu dihadirkan dalam banyak contoh cerita nyata. Penggemar uraian sosial segaya dengan Malcom Gladwell, Mark Manson atau penulis ilmiah populer Amerika lain, kemungkinan besar akan suka dengan penyajian Epstein ini.

Penulisnya pun bukan sekedar berteori atau menyajikan cerita orang. Ia juga punya pengalaman yang menggugat ke-spesialis-an. Epstein menempuh studi ilmu lingkungan, astronomi dan jurnalisme. Karirnya sendiri dimulai sebagai jurnalis investigatif untuk atlit olahraga.

Cukup menantang, bukan? Sekitar 400 halaman (dalam versi Indonesia terbitan Gramedia) tentu menarik dinikmati untuk membantu perencanaan kerja masa depan. **RS

Foto: Joshuapnudell.com

Baca juga:  Apa Buktinya Merokok Menularkan Covid-19?