Press "Enter" to skip to content

Peci Hitam Simbol Nasionalisme Indonesia

Dalam catatan Cindy Adams, Bung Karno diceritakan sempat ragu mengenakan peci hitam untuk pertemuan kaum terpelajar Jawa pada Juni 1921.

Di pertemuan Jong Java itu, Bung Karno terpikir untuk mengenakan simbol baru yang bisa mempersatukan kaum pelajar yang punya semangat pergerakan nasional.

Para pelajar saat itu umumnya tidak mau lagi berpakaian ala priyayi Jawa yang dinilai feodal dan tidak modern. Mereka hanya mengikuti cara berpakaian Eropa dan memandang rendah orang yang mengenakan pakaian pribumi, terutama penggunaan tutup kepala.

Soekarno muda merasa harus ada yang dipakai sebagai lambang nasionalisme. Ia meyakini tutup kepala berupa peci hitam, yang lazim dipakai kelas buruh Melayu, bisa jadi identitas baru yang sesuai dipadankan dengan kemeja dan jas modern.

Fenomena serupa misalnya terjadi pada fez merah ala Turki yang dipakai kaum pergerakan Turki Muda. Guru Soekarno sendiri, Tjipto Mangunkoesoemo, beberapa kali memakai peci beludru hitam.

Maka ketika Bung Karno maju menjadi pembicara, para pelajar lain memandangnya dengan agak aneh saat ia memakai peci hitam. Ia langsung memulai dengan berkata lantang:

Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian bangsa kita. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang merdeka.

Semenjak peristiwa itu, Bung Karno konsisten memakai peci. Dalam momen penting yang tertangkap kamera, seperti saat ia membacakan pledoi Indonesia Menggugat, presiden pertama Indonesia itu selalu memakai peci hitam. Kebiasaan ini pula yang menular ke banyak kaum pergerakan nasional.

Dipakai lintas batas
Peci, yang kadang juga disebut songkok, kuluk, atau kopiah, sebenarnya sudah dikenal sebagai busana khas Nusantara, jauh sebelum masa pergerakan Indonesia. Kebanyakan ahli menilainya sebagai varian dari tutup kepala fez khas Turki, yang kemudian diperkenalkan pedagang Muslim asal India, juga para pedagan Muslim asal Tionghoa.

Baca juga:  Liga Eropa Kembali Bergulir, Bagaimana Formatnya?

Namun di Nusantara, peci beludru dengan warna hitam lebih banyak digunakan untuk keseharian. Berbeda dengan fez yang lebih banyak warna seperti ungu, merah dan biru. Dalam tradisi Melayu dan masyarakat santri Jawa misalnya, peci hitam sering menjadi penutup kepala yang lazim, setidaknya dari catatan abad ke-16.

Pemakaiannya pun tidak terbatas di umat Islam saja. Di Sumatera, warga masyarakat Batak Toba dan Simalungun pun lazim memakai peci, layaknya tetangganya yang Melayu. Demikian pula warga Dayak di Kalimantan.

Tak heran beberapa tokoh nasional yang beragama Kristen sekalipun – terutama mereka yang berasal dari Sumatera dan Kalimantan – juga sering terlihat mengenakan peci. Kita mengenal sastrawan Merari Siregar dan Fridolin Ukur atau tokoh militer TB Simatupang, misalnya, yang beragama Kristen, di banyak kesempatan suka memakai peci.

Salah seorang pendeta senior, yang sampai saat ini konsisten memakai peci adalah Pdt. Dr. S.A.E Nababan, LLD, orang yang pernah menjadi pimpinan tertinggi di HKBP dan pemimpin di Dewan Gereja-gereja Indonesia.

Pdt. Nababan mengaku selalu memakai peci dengan kesadaran bahwa peci adalah simbol pemersatu bangsa.

Saking seringya saya pakai, bahkan ada yang berkomentar saya lebih banyak memakai peci ketimbang Gus Dur yang ketua Nahdlatul Ulama atau Dim Syamsudin yang ketua Muhammadiyah,” ungkap Pdt. Nababan dalam satu kesempatan.

Baik terus dibiasakan
Penggunaan peci oleh banyak rohaniwan dan warga selain yang beragama Islam dinilai penting untuk terus dipertahankan. Aktivis keberagaman, Aan Anshori, misalnya menyebut hal ini perlu patut tetap disebarkan.

Saat ini kan ada penguatan identitas keagamaan yang simbolik. Ciri utamanya ditandai dengan sikap oversensitive misal dalam aspek yang mereka pikir miliknya. Di kalangan Islam, misalnya mengira peci hanya milik orang Islam, padahal itu kan lambang nasionalismenya kita. Dengan pemuka agama lain memakai peci, ini satu bentuk reclaiming ruang keberagaman kita,” tegas Aan saat secara khusus mengapresiasi Pdt. Nababan dalam diskusi bukunya akhir September lalu.

Baca juga:  Membangun Tanpa Utang: Sebuah Jargon Ketimbang Praktik

Aan mengaku senang melihat konsistensi Pdt. Nababan memakai peci. Demikian pula para rohaniwan dari GKJW dan GKI di Jawa Timur yang kembali membiasakan pemakaian peci tersebut.

Meski terlihat sederhana, upaya ini sebenarnya bisa menjadi promosi yang baik untuk dialog dan guyubnya bangsa. **RS

Foto: Presiden Soekarno

Bagikan