Press "Enter" to skip to content

Nommensen, Sang Misionaris dan Perang Batak

Saat Dr. Uli Kozok menerbitkan buku Utusan Damai di Kemelut Perang, sontak begitu banyak warga Batak yang gusar. Tak lain karena buku itu mengungkap peran misionaris legendaris Batak, Ludwing Ingwer Nommensen, dalam kolonialisasi Tanah Batak.

Dr. Kozok, filolog yang sebangsa bahkan sekampung dengan Nommensen, sepertinya sudah sadar uraiannya mungkin tidak enak bagi orang Batak.

Narasi paling lazim yang dianut dalam menceritakan pergolakan tanah Batak selama 1878-1907 itu punya tiga pakem: mengagumi perjuangan Sisingamangaraja XII, menghargai peran para misionaris Eropa seperti Nommensen yang tidak sama kepentingannya dengan Belanda, namun sangat anti pada kolonialisme Belanda.

Contoh paling jelas pakem ini misalnya dalam tulisan Dr. W.B. Sidjabat Ahu Si Singamangaraja. Di buku itu, Sidjabat banyak mengutip kesaksian J.T. Nommensen, putra sang misionaris. Bahwa para penginjil sejatinya tidak terlibat dalam keinginan menaklukkan Tanah Batak, apalagi mengharapkan pertumpahan darah.

Namun bagaimana jika Nommensen, sosok yang dihormati sebagai pembawa Injil dan modernisasi Tanah Batak disebut juga punya andil dalam menaklukan wilayah di antara Lembah Silindung hingga pesisir Danau Toba ini?

Kenyataannya memang jauh lebih kompleks. Tidak cocok untuk sekedar jadi bahan memuja atau menghujat sang misionaris.

Nommensen anak Zamannya
Lahir pada 6 Februari 1834 di Noorstand, wilayah semenanjung Jutlandia, Nommensen di masa itu sebenarnya terlahir sebagai warga Kerajaan Denmark. Ia sendiri berasal dari suku Frisia. Barulah setelah unifikasi Jerman di tahun 1871, kampung halaman Nommensen itu masuk ke wilayah Jerman. Saat itu sang penginjil telah sembilan tahun di tanah Sumatera.

Ini menjelaskan kenapa Nommensen memiliki dua versi penyebutan nama. Ada yang lebih mengedepankan nama Frisia-nya, Ingwer ada pula yang mengutamakan nama Jerman-nya, Ludwig.

Baca juga:  Achmad Yurianto yang Belum Pernah Absen Bahas Covid-19

Masa kecil Ingwer amat sederhana. Ia bahkan lebih banyak membantu orang tuanya bekerja ketimbang bersekolah.

Namun, perubahan besar terjadi saat ia tertabrak kereta kuda di usia dua belas tahun. Berbulan-bulan berbaring karena kaki patah, Ingwer pun bernazar akan menjadi penginjil jika ia bisa pulih kembali.

Ia memenuhi nazar itu di usia 20 tahun. Menempuh pendidikan misonaris lalu menjadi pendeta di badan misi RMG. Nommensen akhirnya diutus ke Sumatera pada tahun 1862.

Biar bagaimanapun pemuda saleh ini adalah anak zamannya. Di masa itu, pandangan populer Kekristenan Eropa adalah misi untuk membuat bangsa-bangsa lain menjadi beradab lewat pekabaran Injil.

Suku Batak saat itu menjadi sorotan, karena menjadi kelompok tersendiri yang belum terpengaruh Islam di tanah Sumatera. Banyak teolog RMG yang mempromosikan agar menginjili wilayah ini. Itu pula yang menggerakkan hati Nommensen.

Karya Awal hingga Perang
Keinginan Nommmensen untuk menginjil di tengah Suku Batak masih harus tertunda. Saat itu Tanah Tapanuli masih merupakan daerah merdeka. Si penginjil tinggal di Padang, kemudian Sipirok yang merupakan daerah taklukan kolonial selepas Perang Paderi.

Nommensen baru bisa berkunjung ke Tapanuli Utara pada 1863 dan menetap disana setahun kemudian. Ketekunannya membantu masyarakat dalam pendidikan, kesehatan serta mengajarkan iman Kristen memang berbuah signifikan.

Huta Dame, perkampungan Kristen yang dibangunnya menjadi percontohan bagaimana keluarga Batak Kristen mulai terbentuk. Hingga di tahun 1873 sudah ada gedung gereja, sekolah dan pusat kesehatan.

Sampai di titik ini upaya misi Nommensen masih belum banyak berurusan dengan kolonialisasi. Sikap para raja Batak umumnya beragam atas aktivitas misionaris. Ada yang kurang suka karena sedikit banyak menggerus tradisi adat, namun banyak pula yang menyambut positif karena kemajuan yang dibawa.

Baca juga:  Didi Kempot: Jawa, Indonesia sekaligus Dunia

Nommensen sendiri awalnya meyakini bahwa penginjilan akan lebih baik jika tanah Batak tetap merdeka. “Orang Batak merdeka lebih bersemangat dan jiwanya lebih terbuka daripada mereka di daerah yang dikuasai Belanda,” tulisnya dalam sebuah surat pribadi tahun 1876.

Situasi berubah, saat ketegangan antara pemerintah Belanda dengan para raja Batak makin terasa. Apalagi ketika Sisingamangaraja XII menyatakan pulas (perang) terhadap Belanda di tahun 1878. Hal ini dianggap menjadi penghalang bagi aktivitas misionaris asal Eropa.

Tidak semua raja-raja Batak setuju pada perlawanan total, beberapa huta – baik yang sudah Kristen maupun masih menganut agama tradisional – bahkan terang-terangan meminta untuk dimasukkan pemerintahan Belanda. Namun, tidak semua pula warga Batak Kristen mendukung kolonialisasi. Diantara para panglima dan prajurit Sisingamangaraja pun ada yang beragama Kristen.

Ujung sejarah akhirnya kita ketahui, Sisingamangaraja XII terbunuh setelah 29 tahun perlawanan dan wilayah Batak pun cukup didominasi kekristenan. Tapi, dalam kompleksitas seperti ini tentu sulit menilai sikap Nommensen, yang selepas 1878 kelihatan lebih dekat pada Belanda.

Biar bagaimanapun, benih kemandirian dan kemajuan yang ditaburnya pula yang di waktu-waktu kemudian menjadi modal bangsa Batak untuk maju dan berjuang untuk kemerdekaan. **RS

Foto: Basrysihotang.files.wordpress.com

Bagikan