Press "Enter" to skip to content

Nasi Kuning: dari Hajatan hingga Sarapan

Nasi kuning kini begitu populer sebagai salah satu menu sarapan. Mirip dengan nasi uduk, varian memasak menu ini ada pada proses awal memasak berasnya.

Kita tahu warna kuning pada nasi ini diperoleh dari kunyit yang ditambahkan sejak proses penanakan beras menjadi nasi. Garam, penyedap rasa, daun sereh, daun salam dan santan biasanya ditambahkan untuk membuatnya lebih gurih.

Namun asalinya, nasi kuning biasanya disajikan dalam bentuk tumpeng pada hajatan tradisional di Pulau Jawa dan Bali. Warna kuning melambangkan emas yang bermakna kekayaan. Nasi kuning dibentuk menggunung melambangkan gunung emas, kemakmuran hidup serta moral yang luhur.

Dengan adanya tumpeng dalam perayaan, diharapkan bisa membawa banyak berkah kekayaan dan diberi kemakmuran hidup karena harta yang melimpah.

Karenanya, nasi kuning dalam bentuk tumpeng tak lain adalah wujud doa. Ia sering menjadi sajian utama dan sakral yang disajikan pada acara syukuran, atau momen bahagia lainnya seperti kelahiran, ulang tahun, tunangan, pernikahan dan lainnya.

Di tradisi Hindu-Bali nasi kuning dalam tumpeng ini juga menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari sejumlah hari raya seperti Kuningan.

Tumpeng seperti ini biasanya lengkap dengan sejumlah pakem seperti melibatkan telur, ikan/udang dan ayam/burung dara (yang melambangkan darat, air dan udara). Juga dengan sejumlah sayuran hijau dan merah.

Tapi, mungkin karena menu ini dirasa cukup enak, nasi kuning kemudian hadir juga dalam bentuk keseharian. Kalau dalam sajian seperti ini, ia tidak dibentuk seperti tumpeng, melainkan disajikan seperti nasi biasa. Lauknya juga lebih sederhana, biasanya hanya telur, daging ayam dan tempe ditemani kerupuk dan lalapan.

Nasi kuning yang seperti ini banyak dijumpai di berbagai kota di Indonesia. Ia sering menjadi menu sarapan, mungkin karena porsi dan rasanya biasanya tidak sebanyak menu makan siang atau makan malam.

Baca juga:  Cerita Tempe: Makanan Penyelamat Asli Indonesia

Karena begitu populer, nasi kuning pun tidak hanya dikenal dalam bentuk lazim seperti di Jawa. Di daerah Banjar misalnya, telur pindang (hintalu) biasanya menjadi topping tersendiri buat nasi kuning.

Nasi Kuning/Pixabay.com

Demikian pula penambahan daging asap (se’i) pada nasi kuning di wilayah Nusa Tenggara Timur. Atau rendang sapi pada nasi kuning di wilayah Minang dan Melayu. Nasi kuning di Medan, lain lagi, biasanya punya rasa santan yang lebih kentara jika dibandingkan nasi kuning Jawa.

Sementara di Manado, nasi kuning jadi punya rasa sendiri karena saat jelang tanak ditambahkan potongan ikan cakalang asap yang aromanya begitu khas, ditambah sambal roa yang amat menyengat. Biasanya ia pun dibungkus dengan daun lontar (woka) yang lebih membuat unik aromanya.

Nah, cukup banyak varian nasi kuning yang menantang untuk dicoba bukan? **RS

Foto: Unileverfoodsolutions.co.id

Bagikan