Press "Enter" to skip to content

Melihat Sisi Lain Waktu Luang di The Other 8 Hours

Benarkah kita kekurangan waktu?

Keluhan akan kurangnya waktu banyak disampaikan orang di zaman kini. Orang mengaku terlalu sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal yang mereka inginkan.

Pada kenyataannya, setiap kita memiliki waktu 24 jam setiap harinya. Tidak ada orang yang punya waktu lebih dari orang lain. Yang tampak tidak sibuk, tidak pontang-panting bisa jadi adalah mereka yang pandai mengelola waktu. Mereka hanya memakai waktunya untuk hal-hal penting.

Umumnya kita pun memakai sekitar 8 jam untuk beristirahat, 8 jam untuk bekerja rutin, sehingga punya sekitar 8 jam untuk mengerjakan hal lain.

Jika tidak pandai mengatur waktu, 8 jam untuk kerja rutin tadi bisa jadi terasa tidak cukup. Ada banyak orang yang harus bekerja sampai tengah malam.

Alih-alih bisa membaca buku atau melakukan kegiatan pengembangan diri, orang seperti itu tidak punya waktu untuk keluarga, atau berolah raga menjaga kondisi tubuhnya bahkan kadang makan dan istirahatnya terbengkalai. Delapan jam sisa habis termakan untuk kerja yang tidak produktif

Di buku The Other 8 Hours, penulis dan konsultan keuangan Robert Pagliarini meyakini pemanfaatan 8 jam sisa ini adalah hal yang menentukan bagaimana orang bisa sukses memaksimalkan waktu yang dihabiskannya. Ini pula yang mempengaruhi produktivitas di 8 jam waktu kerja rutin dan membuat kita bisa enak beristirahat.

Bagaimana bisa demikian? Pagliarini mengingatkan mengatur waktu bukan sekadar mengelola jadwal atau menancapkan poin-poin di kalender. Mengatur waktu dimulai dari mengubah cara berpikir. Kemudian mengubah kebiasaan-kebiasaan. Mengatur waktu adalah mengubah cara hidup.

The Other 8 Hours punya petunjuk dalam keempat babnya. Di bab pertama Mendapatkan Petunjuk, penulis mengajak kita untuk melihat sejumlah permasalahan terkini terkait kerja dan penggunaan waktu.

Baca juga:  Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk Tidak Miskin

Meski konteksnya lebih dekat dengan masyarakat Amerika, namun agaknya kita semua setuju bahwa kebanyakan orang zaman sekarang bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih sedikit dibanding kebutuhan hidup.

Dalam bab-bab berikutnya barulah buku ini mengarah pada sejumlah saran praktis. Saran-saran ini mungkin ada yang terdengar klise namun disajikan dengan cara baru, semisal menentukan prioritas, belajar berkata tidak pada hal mendesak yang tidak perlu. Tapi Pagliarini juga menyarankan hal terbilang baru semisal kemampuan multitasking yang efektif dan terbatas, juga keefektifan penggunaan teknologi.

Tak hanya soal pemanfaatan waktu luang, buku yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan BIP-Gramedia ini mengarah pada perbaikan hidup dan tentu saja bertambahnya penghasilan. Meski terkesan gimmick ala training, beberapa aktivitas latihan yang disarankan di buku ini sebenarnya layak untuk dicoba secara praktis.

Setidaknya The Other 8 Hours membantu kita menghayati secara konseptual sekaligus praktik, bahwa waktu luang bukan untuk dibuang, tapi diarahkan untuk proses kreatif dan melakukan banyak hal. **RS

Foto: Tokopedia

Bagikan