matinya demokrasi Indonesia

Dalam beragam wacana diskusi dengan tema demokrasi belakangan ini, ada sinyal peringatan yang kerap didengungkan: Indonesia semakin dekat dengan otoritarianisme.

Apa yang disampaikan oleh Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) misalnya. Sejak Juni lalu lembaga ini menyebut bahwa empat indikator rezim politik otoriter sudah mulai terasa di Indonesia.

Dalam webinar lembaga ini, yang berlangsung Minggu (18/10), Ketua Dewan Pengurus LP3ES, Didik J Rachbini kembali mengungkap keprihatinan ini dengan mengacu pada empat indikator tersebut.

Pertama adalah adanya upaya pemberangusan terhadap lawan politik dari rezim yang memimpin,” ungkap Didik meski tak mengungkapkan secara eksplisit siapa pemimpin yang dimaksud dalam pemaparannya.

Jadi lawan politik yang melakukan prosedur demokrasi melalui kritik di publik diberangus, dengan alat negara, propaganda media sosial, dan sebagai macam,” lanjutnya. Padahal menurut Didik, di masyarakat demokratis pandangan berbeda dengan penguasa adalah keniscayaan.

Memperlakukan dan memposisikan aktivis yang kritis pada pemerintah sebagai kriminal, itu kesalahan besar.

Indikator kedua adalah adanya pembatasan terhadap kebebasan sipil. Ini terlihat dalam sejumlah aturan seperti Perpu tentang Organisasi Masyarakat, yang kini telah diundangkan. Demikian pula penerapan pasal-pasal UU ITE yang dalam banyak kasus justru meredam kebebasan bersuara.

Sementara indikator ketiga adalah adanya toleransi terhadap kekerasan. Baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun aparat pemerintahan. “Pemerintah terkesan membenarkan kekerasan, jika dilakukan sesuai kepentingannya,” ungkap Didik.

Alumnus IPB dan Luzon State University ini mengungkap dalam indikator keempat pun sudah ada tandanya. Dimana pimpinan lembaga negara mulai menabrak prosedur dan aturan demokrasi. Ia mencontohkan pembahasan sejumlah undang-undang yang tidak mengakomodasi pihak yang akan terdampak oleh peraturan tersebut.

Baca juga:  Pergeseran Preferensi Pilihan Politik Kaum Muda dan Transformasi Parpol

Kalau keempat ini makin menguat, artinya kita perlahan masuk ke rezim otoriter. Demokrasi kita justru menghasilkan pemimpin yang otoriter, yang kemudian membawa kita ke sistem negara otoriter,” tambahnya.

Keempat indikator otoritarianisme ini merupakan adaptasi dari tesis yang diusung oleh akademisi Harvard University, Prof. Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, dalam buku terbarunya How Democracies Die.

LP3ES dalam beberapa bulan belakangan secara kontinu melakukan kajian sejauh mana empat indikator tersebut mulai terlihat.

Dari berbagai sign, kemunduran demokrasi Indonesia dan putar balik otoritarianisme yang paling kuat sebenarnya adalah sisi kebebasan sipil, pers, dan akademik,” ungkap Didik sembari menyebut kasus pembubaran diskusi di tahun lalu, juga banyaknya penuntutan atas kasus pencemaran nama baik pejabat.

Meski ia mengaku di Indonesia kebebasan sipil, pers dan akademik masih bertahan. Namun indikator pemberangusannya tidak boleh dianggap enteng. **RS

Foto: TEMPO/Asrul Firga Utama

By FOKAL

Faktual, objektif, dan kontekstual.