Press "Enter" to skip to content

Aktivitas (Tidak) Normal di Wisata Alam

Indonesia punya banyak keindahan pantai, gunung dan bentang alam lain. Boleh dibilang sangat eksotis dan tiada bandingannya di dunia. Dari ujung Timur hingga Barat bentukan alam ini amat beragam.

Namun sejak Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung lebih dari enam bulan lamanya, keindahan ini terasa tak terjangkau. Kita tidak bisa lagi menikmati dengan bebas alam ini. Alih-alih berakhir, sampai saat ini kegiatan diluar rumah masih dibatasi.

Entah sampai kapan kita bisa pergi keluar rumah dan menikmati alam. Tentunya, setelah pandemi berakhir, kita berharap bisa kembali lagi menjelajah banyak tempat.

Masih ingat kapan kita terakhir kali ke pantai? Atau melihat sunrise dari Bromo? Bermain-main dengan ikan di terumbu karang, menikmati udara segar pegunungan? Saat ini seolah-olah alam kita sengaja menolak kunjungan orang-orang. Seolah-olah alam memberikan sinyal “kami ingin beristirahat sejenak” dari hiruk pikuk, dari polusi, dari orang-orang yang merusak.

Kita seringkali mengabaikan etika ketika menikmati alam yang indah. Ambil contoh, ketika orang-orang melakukan snorkeling di pantai, diperkirakan enam dari sepuluh mereka pasti merusak terumbu karang.

Padahal, untuk membangun koloni terumbu karang setebal satu sentimeter saja membutuhkan waktu tahunan. Sangat disayangkan jika dirusak hanya dalam waktu sekejap.

Di pegunungan Himalaya, kita tahu cerita aktivitis lingkungan yang mengumpulkan sampah dari orang-orang yang “ingin menaklukkan” ketinggian tetapi lupa dengan sampah yang dibawanya. Atau Anda mungkin juga masih ingat pantai Maya di Thailand yang sampai ditutup karena ekosistemnya sudah rusak?

Itu baru wisata berbasis alam, belum lagi kalau kita bicara penebangan hutan. Hal ini memberikan gambaran, bahwa aktivitas yang kita anggap normal di alam, punya kecenderungan merusak.

Baca juga:  Uniknya Ucapan Idul Fitri di Indonesia

Pandemi ini memberi arti positif dan negatif. Di satu sisi, bahwa kesehatan manusia terganggu dan bahkan menimbulkan kematian. Disisi lain, lingkungan mempunyai “nafas baru” untuk melakukan recovery.

Pandemi harusnya memberikan pemahaman yang lebih kepada kita untuk lebih menjaga alam. Kita tidak seharusnya membuang sampah di tempat wisata, di gunung-gunung yang kita daki.

Tahukah kita bahwa banyak ikan mati karena memakan plastik karena dia tidak bisa membedakan mana makanan dan mana plastik? Tahukah kita bahwa terumbu karang yang kita injak ketika berenang itu hanya dapat tumbuh dalam hitungan milimeter per tahun? Tahukah kita bahwa plastik yang kita buang ditanah akan tetap utuh selama ratusan tahun?

Aktivitas normal kita selama ini ternyata tidak membantu alam untuk berkembang. Kita harus membuang konsep bahwa alamlah yang menjaga kita. Saat ini kita harus mengubah persepsi bahwa kitalah yang menjaga alam. Ingatlah, jika lingkungan kita terancam, maka kita juga akan terancam mati.

Kita harus merevolusi “habit” kita dan melakukan introspeksi mendalam. Aktivitas normal kita selama ini harus diubah kearah “tidak normal” untuk memberikan hubungan yang lebih spesial antara alam dan manusia.

Kita dapat memulai dari hal sederhana. Semisal untuk wisata ke gunung kita sudah menyiapkan bungkus tempat sampah dan sampahnya dibawa kembali kebawah. Atau sebelum ke laut untuk snorkeling, ada baiknya mengetahui lingkungan dan biota yang hidup di wilayah itu. Contoh lain di keseharian kita memakai wadah yang ramah lingkungan.

Jangan ragu pula untuk mengingatkan orang lain melakukan hal yang sama seperti kita melakukan contoh-contoh tadi. Kita harus saling menjaga alam dan mengingatkan manusia bahwa alam dan manusia adalah satu bagian penting dari kehidupan.

Baca juga:  Durian di Indonesia Paling Bervariasi

Penulis: Noir Primadona S.Pi., M.Si. (Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPAD)
Foto: Unsplash

Bagikan