Press "Enter" to skip to content

Seberapa Signifikan Peristiwa Rengasdengklok?

“Kami hanya menunggu seharian. Saya menemani Guntur bermain.”

Demikian Bung Hatta memberi kesaksian apa yang mereka kerjakan seharian di Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945.

Uniknya, saat dipindahkan ke rumah milik seorang tuan tanah Tionghoa, Djiaw Kie Song, di perjalanan putra sulung Bung Karno itu sempat ngompol, hingga membasahi celana Bung Hatta yang memangkunya.

“Maka celana yang basah sebagian itu terpaksa dipakai terus sampai kering dengan sendirinya. Cuma dengan celana itu saya tidak dapat mengerjakan sembahyang,” kenang Hatta.

Tak banyak peristiwa yang terjadi di rumah itu. Sampai pada sore harinya Soekarno-Hatta kemudian dijemput kembali ke Jakarta dan tiba di ibukota sekitar pukul sembilan malam.

Lalu mengapa peristiwa Rengasdengklok begitu banyak disebut sebagai hal penting dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia?

Haruskah percaya pada janji Jepang?
Ini tak lepas dari cerita panjang sebelumnya. Terkait adanya perbedaan pandangan antara kelompok pemuda dan golongan tua terkait bagaimana kemerdekaan Indonesia harus diproklamasikan.

Kelompok muda berharap proklamasi itu dicapai tanpa campur tangan Jepang – agar tak terkesan kemerdekaan Indonesia merupakan hadiah dari Dai Nippon. Namun, kelompok yang lebih senior meyakini upaya yang dirintis bersama Jepang adalah cara paling aman dan logis untuk menyatakan kemerdekaan.

Pada September 1944 terbit Deklarasi Koiso. Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso mengumumkan bahwa akan memberikan kemerdekaan pada Indonesia. Namun, terjadi silang pendapat dalam tubuh tentara Jepang di Indonesia dalam melaksanakan perintah sang perdana menteri.

Tentara Angkatan Darat yang berkuasa di Jawa menginginkan seluruh wilayah Hindia Belanda dimerdekakan. Namun ini ditolak oleh tentara di wilayah Sumatera. Sementara Angkatan Laut Jepang yang menguasai Indonesia Timur mengusulkan agar yang dimerdekakan hanya wilayah yang dikuasai Angkatan Darat saja.

Baca juga:  Bakar Batu dan Perdamaian ala Masyarakat Papua

Bung Karno sempat sangat gusar dan menulis surat bernada keras. Pemerintah Militer Jepang di Indonesia akhirnya membentuk BPUPKI demi memfasilitasi dan menggodok ide soal kemerdekaan Indonesia.

Keberhasilan BPUPKI kemudian PPKI bersidang dianggap merupakan jalan kompromi yang paling berhasil. Draft undang-undang dasar dan formatur kemerdekaan Indonesia itu dinilai bisa menampung aspirasi semua kelompok dan golongan yang terlibat.

Keberhasilan ini yang membuat Marsekal Hisaichi Terauchi, penguasa militer Jepang di wilayah Asia Tenggara mengundang Soekarno, Hatta dan Radjiman Wediodiningrat berkunjung ke Saigon pada awal Agustus 1945. Dalam pertemuan itu, Marsekal Terauchi mengusulkan tanggal 24 Agustus sebagai tanggal proklamasi.

Pemuda yakin tidak perlu Jepang lagi
Yang tidak diketahui adalah Jepang telah mengumumkan kekalahan atas sekutu pada 15 Agustus 1945. Tepat di hari Soekarno, Hatta dan Radjiman tiba di Jakarta dari Saigon.

Berita itu diketahui oleh kelompok muda lewat siaran radio luar negeri. Tapi, belum ada konfirmasi dari otoritas Jepang di Jakarta. Radio resmi Jepang pun berhenti siaran sejak sehari sebelumnya. Melihat kondisi itu, para aktivis muda yakin Jepang memang telah menyerah. Inilah saatnya rakyat Indonesia segera memproklamasikan kemerdekaan.

Tapi, Sukarno-Hatta masih enggan bergerak tanpa kejelasan status dari Jepang. Di hari yang sama mereka bertemu dengan Laksamana Maeda dan pimpinan militer Jepang di Jakarta. Mereka pun belum memastikan kabar kekalahan Jepang.

Malamnya, Wikana dikawani Soebadio, Suroto Kunto, dan D.N. Aidit sebagai perwakilan kelompok pemuda, mendatangi kediaman Sukarno di Pegangsaan Timur. Hatta juga datang ke sana dan perdebatan kian sengit.

Ancam-mengancam berujung penculikan
Pokok persoalannya adalah kaum muda sangat yakin Jepang sudah menyerah, jadi tidak perlu lagi memakai instrumen seperti PPKI buatan Jepang untuk memproklamasikan kemerdekaan. Sementara pertimbangan Hatta waktu itu tentara Jepang masih ada dan lengkap bersenjata. Akan ada pertumpahan darah yang tidak perlu.

Baca juga:  Menulis Tegak Bersambung yang Melelahkan Namun Penting

Wikana dengan emosi mengancam Soekarno: “Apabila Bung Karno tidak mau mengucapkan pengumuman kemerdekaan itu malam ini juga, besok pagi akan terjadi pembunuhan dan penumpahan darah!”

Ditantang demikian Soekarno melonjak dari duduknya: “Ini leherku, seretlah aku ke pojok sana, dan sudahilah nyawaku malam ini juga, jangan menunggu sampai besok!”

Bung Hatta dengan lebih dingin berujar: “Lebih baik cari pemimpin lain saja untuk mengobarkan revolusi jika memang ingin.”

Para pemuda pun melunak. Mereka sadar tidak ada sosok lain yang bisa mewakili proklamasi selain dwi-tunggal ini. Mereka pulang dan mengubah strategi. Dalam rapat singkat diputuskan mereka akan menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok dengan dalih akan melakukan revolusi di Jakarta.

Rencana dan permainan tipu-tipu ala pemuda itu sedikit banyak menekan kaum tua. Soekarno-Hatta akhirnya kembali ke Jakarta dengan janji bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilakukan di Jakarta pada 17 Agustus, pada pagi hari paling lambat sampai tengah hari. **RS

Foto: Kompas.com

Bagikan