Press "Enter" to skip to content

Memuji Sekaligus Mengasihani Diplomat Muda Indonesia

Nama Silvany Austin Pasaribu beberapa hari belakangan viral. Ia disebut sebagai sosok diplomat muda cerdas nan tegas. Bahkan di banyak redaksi berita, kata ‘cantik’ dan etnisitasnya sebagai ‘boru Batak‘ juga dijadikan bumbu pembicaraan.

Muasalnya dari momen saat Indonesia memberikan hak jawab di Sidang Umum PBB soal tuduhan Vanuatu mengenai dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Papua. Sidang itu berlangsung Sabtu lalu (26/9).

Silvany menjadi perwakilan Indonesia menjawab hal tersebut. Hal wajar, mengingat ia merupakan salah satu diplomat Indonesia yang bertugas di kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia untuk PBB di New York.

Sebenarnya, retorika Silvany saat menjawab tidak banyak berbeda dengan jawaban Indonesia selama ini saat berurusan dengan kasus Papua.

Kita mahfum sudah beberapa tahun, negara-negara di kitaran Pasifik (Vanuatu, Kepulauan Solomon, Nauru, Kepulauan Marshal, Tuvalu dan Tonga) bersolidaritas untuk mengangkat isu Papua di berbagai persidangan PBB.

Apa yang dilakukan Silvany, hampir sama dengan yang pernah dilakukan Ainan Nuran pada sidang umum PBB 2017 dan Nara Rakhmatia pada persidangan 2016.

Jawabannya pun masih berkisar pada tiga garis besar yang sama: ini urusan dalam negeri Indonesia tidak layak dicampurimasyarakat Papua kini semakin sejahtera berkat pembangunan serta mempertanyakan komitmen negara yang menuduh itu soal HAM.

Lantas kenapa muncul kembali glorifikasi? Silvany kini jadi sosok baru yang dipuji. Sama seperti rekannya, Nara dan Ainan, embel-embel cerdas, tegas dan cantik, jadi bumbu pembesar.

Padahal, pada prinsipnya mereka hanyalah menjalankan tugas. Bukan kebetulan jika narasi mereka sebagai yang cantik, tegas – atau bahkan etnisitasnya memang sengaja diberi amplifikasi ketimbang persoalan inti.

Disitulah kita bisa agak kasihan pada diplomat-diplomat muda kita. Sebagai perwakilan pemerintah, mereka mestilah tegas dalam menjawab berbagai tuduhan yang merugikan kepentingan Indonesia. Namun, kalau sudah urusannya soal HAM agaknya memang mereka harus semakin bermuka tebal.

Baca juga:  Pencalonan Gibran diwarnai Banyak Blunder

Retorika seperti Nara yang bilang: “Tidak ada pelanggaran HAM,” atau seperti Ainan dan Silvany yang turut mempertanyakan komitmen negara penuduh soal HAM bisa jadi jurus diplomasi yang harus dikeluarkan. Silvany bahkan menyerang balik Vanuatu yang sampai sekarang belum meratifikasi piagam PBB soal HAM.

Apa boleh buat, mereka harus jadi pejuang yang gigih untuk memenangkan posisi Indonesia. Itu sudah tugasnya. Bolehlah mereka dipuji dalam usaha tegas dan kadang bermuka tebal seperti itu.

Tapi kita sebagai warga, yang punya kebebasan untuk lebih jujur dan memakai nurani tentu tahu bahwa wajah seperti itu hanyalah kosmetika yang beralas kepentingan diplomasi.

Tak perlu pembuktian yang terlalu sulit untuk mengakui bahwa pelanggaran HAM memang terjadi di bumi Cenderawasih, sama seperti sejumlah kasus diskriminasi terkait isu SARA juga masih ada di bagian lain Indonesia.

Indonesia boleh saja galak dan tegas soal pelanggaran HAM di luar. Kita setidaknya telah menunjukkannya dalam suara untuk kasus Rohingya, Palestina atau beberapa tempat lain, yang tentu saja baik. Namun, bukankah itu juga berarti kita harus tegas pula pada diri kita sendiri sebagai bangsa yang katanya menjunjung HAM? Tak sekedar menuduh balik atau menyangkali.

Jadi tak perlu memuja-ulang retorika HAM Silvany, Ainan, Nara atau diplomat muda lain. Apalagi sekedar mengglorifikasi hal-hal sekunder dari mereka.

Cukuplah kita katakan: “Terimakasih telah mengerjakan tugas wajib sebagai diplomat. Namun, marilah kita sebagai bangsa lebih jujur dalam menjunjung serta menegakkan HAM. Agar kalian tidak perlu repot dan ngeles sebanyak ini.” **RS

Foto: YouTube/TV WESTPAPUA

Bagikan