Press "Enter" to skip to content

Melur Hutahaean: Guru yang Dua Kali Kerja di Tengah Pandemi

Sudah beberapa bulan sekolah-sekolah di Indonesia menjalankan program belajar dari rumah. Pandemi Covid-19 yang belum tahu kapan berakhir ini, telah memberi tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Bagi siswa dan orang tua yang tinggal di perkotaan, tantangan itu bisa berupa jenuhnya anak belajar di tengah ruang yang terbatas atau sulitnya orang tua mendampingi siswa. Sementara bagi yang lain tantangan itu mewujud dalam kesulitan menyediakan gadget buat beberapa anak, atau kuota internet yang terbatas.

Pemerintah, lewat kementerian pendidikan dan kebudayaan, telah berupaya agar tantangan ini teratasi. Program pemberian kuota internet serta penayangan pembelajaran secara nasional di TVRI adalah dua dari beberapa upaya tersebut. Namun, bagi cukup banyak anak di daerah Indonesia, tantangannya adalah ketiadaan akses dan fasilitas sama sekali.

Di SMP Negeri 1 Sigumpar di Kabupaten Toba Samosir, misalnya. Dalam satu kelas ada saja siswa yang tidak punya gawai smartphone, apalagi akses internet. Interaksi dengan guru dan pembelajaran mereka pun tertinggal dari rekan-rekannya yang lebih mampu dalam fasilitas.

Hal ini merisaukan Melur Hutahaean, salah satu dari beberapa guru. Di lubuk hatinya terdalam ia tidak ingin ada siswa yang tertinggal semata-mata karena keterbatasan yang bukan kesalahan mereka.

Pelajaran matematika yang diampu Melur, memang punya tantangan khas yang akan lebih teratasi apabila guru dimungkinkan berinteraksi dengan siswa. Guru lebih mudah mengajarkan langkah satu persatu sesuai kebutuhan penalaran tiap anak.

Maka ia pun memilih jalan pengabdian. Lepas mengajar siswa-siswi lain secara daring, Melur melanjutkan aktivitas luring: mengunjungi mereka yang tidak punya akses pada pembelajaran online.

Dua kali kerja memang, tapi ndang aci ceng, tak boleh beralasan untuk berhenti…” ujar Melur mengomentari usahanya.

Baca juga:  Kematian George Floyd Picu Kerusuhan di Minnesota
Melur Hutahaean menjumpai siswa/i yang tidak mempunyai fasilitas daring.

Sebisa mungkin mereka menerapkan protokol kesehatan saat bertemu. Salah satunya dengan menjaga jarak dan belajar di tempat terbuka. Namun, terlepas dari risiko dan upaya mengatasinya, ada paradigma yang jauh lebih penting yang sedang diteladankan guru di kampung tanah Toba ini.

Pembelajaran di negeri kita seringkali memberi tempat lebih utama pada mereka yang mampu. Baik secara finansial, fasilitas maupun kemampuan siswa. Mereka yang kurang dalam hal-hal itu tak jarang ‘dibiarkan’ sehingga selalu tertinggal.

Padahal hakikat pendidikan adalah sarana pembebasan. Justru pada mereka yang lebih tersisih, kesempatan itu harusnya dibuka lebih besar.

Persis seperti kesempatan yang diberikan Melur. Pembelajaran yang lebih interaktif yang justru mengutamakan mereka yang terbatas akses. **RS

Bagikan