Press "Enter" to skip to content

Log Zhelebour: Legenda Tersembunyi di Balik Rock

Log Zhelebour sering dikira sekedar nama produksi. Mereka yang besar di era 1980-1990-an, pasti sering menjumpai namanya dalam sampul-sampul kaset rock semisal Nicky Astria, Jamrud, Power Metal dan Boomerang.

Ternyata itu adalah nama seorang promotor sekaligus produser. Ong Oen Log, pria kelahiran Surabaya 16 Maret 1959 itu, memilih nama belakangnya ditambah julukan Zhelebour – versi keren dari ‘slebor’ – untuk jadi nama perusahaan.

Orang pertama yang berani pakai nama pribadi sebagai brand, itu saya. Tanya saja ke pakar pemasaran Hermawan Kertajaya,” ujar Log dalam sebuah wawancara musik.

Awal Karir
Log mulai berkenalan dengan pagelaran musik setelah lulus SMA. Ia jadi DJ sekaligus menggelar sejumlah lomba disko di Surabaya. Kala itu, era 1970-an, musik rock masih kurang digemari khalayak luas, tetapi sudah ada beberapa punggawa band seperti SAS dari Surabaya atau Superkid dari Bandung.

Namun, akhirnya Log jatuh cinta sepenuhnya pada konser rock. Itu bermula ketika Nirwana Record memintanya untuk menggelar konser untuk SAS. Namun, ia kepikiran lebih jauh. Log lantas menghubungi manajer Superkid, Denny Sakrie.

Yang kemudian terjadi adalah sejarah di dunia musik rock. Stadion Tambaksari, Surabaya jadi saksi dua grup rock awal Indonesia itu berduel. Konser ini punya banyak masalah. Bahkan disitu ia mulai dijuluki ‘slebor’ karena ketidakpuasan penonton. Tapi Log terus berbenah.

Konser bertajuk Rock Power itu beberapa kali mengundang duel grup rock lain semisal Godbless, Rollies dan Jaguar.

Tak lama, konsep konser duel pun diubah menjadi festival yang digelar beberapa hari. Djarum Super Rock Festival (DSRF) 1984 adalah tonggak sejarah lain yang dipatok oleh Log.

Baca juga:  Didi Kempot: Jawa, Indonesia sekaligus Dunia

Penampil di DSRF lebih beragam. Tidak hanya band populer, tetapi juga bakat baru dari berbagai daerah. Log mengundang mereka berkompetisi dan wajib membawakan lagu ciptaan sendiri. Ini punya misi regenerasi dan promosi musik rock dalam negeri ke khalayak dalam negeri.

Standar baru pagelaran rock
Tak hanya soal ide event. Log juga menjadi penegak standar baru dalam pagelaran musik. Ia terbilang royal dalam investasi peralatan untuk menghadirkan suara dan tata panggung yang dahsyat demi konser.

Log mengalami mulai dari panggung yang amat sederhana. Sekedar panggung kayu yang ditutup terpal dan barikade yang dibuat drum minyak diisi air. Ia bahkan membuat sendiri set panggungnya dengan dana pinjaman.

Namun, inovasinya terus berkembang. Ia dikenal sebagai pelopor untuk konsep dua panggung yang saling menyebelah dengan sistem suara yang terhubung. Ini memungkinkan penonton tidak perlu berpindah tempat untuk menyaksikan beberapa penampil favoritnya. Konsep ini bahkan ditiru oleh penyelenggara festival musik di luar negeri.

Otak bisnisnya juga lumayan jalan. Setelah pengalaman di beberapa konser, Log mendisiplinkan pengeluaran para artis agar tidak membengkak. Peralatan konser canggih yang dibelinya sendiri juga mendatangkan keuntungan saat disewakan.

Di atas itu semua, idenya yang kreatif juga disukai banyak sponsor. Di tangannya konser musik dipastikan cuan. “Saya pasti dapat sponsor gede dan enggak perlu jual tiket mahal,” ungkapnya mantap.

Era 2000-an, dekade ketiga karirnya, adalah masa emas industri musik rock Indonesia.

“Album produksi saya meledak semua, mulai dari Boomerang sampai Jamrud,” ungkap Log saat diwawancara medcom. “Kami bikin tur terus. Rekaman di luar negeri. Bikin video klip banyak. Promo digenjot. Bahkan saya bikin tabloid rock.”

Baca juga:  Seratus Tahun Hassan Shadily di Kebangkitan Nasional

Pensiun?
Seiring usia, Log semakin selektif dalam menggelar konser. Meski lumayan menguntungkan, ia kian enggan mengurus tur dan festival musik di daerah, karena biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Gudang Garam Rock Competition 2007 adalah festival rock terakhir yang digarapnya. Meski sponsor masih meminta ia meneruskan, namun Log sudah enggan terlibat.

Sementara itu, konser terakhir yang pernah ia tangani ada di kitaran 2017, bersama Jamrud. Sebagai promotor, ia juga pernah mendatangkan band asal mancanegara seperti, Sepultura, Mr BIG, White Lion, Helloween, Skid Row dan DragonForce.

Log kini lebih menikmati pensiun. Menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi siapa yang bisa duga jika beberapa waktu ke depan jiwa rocknya muncul kembali. Siapa tahu si legenda tersembunyi ini mau turun gunung. **RS

Foto: Tempo/Bodi CH

Bagikan