Press "Enter" to skip to content

Libido yang Membuncah

Hasrat seksual atau libido itu indah. Salah satu rekreasi yang paling asyik adalah di ranjang bersama kekasih yang diberi oleh Pemilik-Pemberi hidup. Hasrat seksual juga menjadi rahim ilahi untuk menghadirkan kehidupan baru di bumi. Seksualitas untuk prokreasi dan rekreasi.

Baik rekreasi maupun prokreasi sama-sama bernilai. Namun, keduanya bukan segalanya. Keduanya hanya bagian kecil dari kompleksitas hidup manusia, anugerah Yang Kuasa.

Yang menjadi soal adalah ketika libido membuncah, menggelisahkan serta membuat keruh tanpa bisa dilihat lagi kenikmatan, keindahan dan kemuliaannya. Libido menjadi subyek yang menguasai dan mengendalikan. Pada gilirannya orang dengan libido liar ini lalu menundukkan dan menguasai orang lain agar libidonya tersalurkan.

Mungkin karena terlalu direpresi, tanpa diakomodasi dan dicerahi, libido meluber tanpa kendali. Ia yang tadinya baik berubah menjadi nafsu jahat. Pemerkosaan, pelecehan dan berbagai tindakan sex abuse lainnya menjadi contoh libido liar tanpa kendali.

Dalam kehidupan sosial dan politik sehari-hari, nafsu jahat yang tanpa kendali atau libido itu juga menyusup banyak aspek. Di dunia politik kita dapat menyebut hasrat liar itu sebagai libido kekuasaan.

Orang-orang dengan libido politik liar selalu berhasrat untuk menguasai yang lain, karena ia sendiri tidak mampu menguasai libido kekuasannya yang nakal. Ia telah diperbudak oleh hasrat kuasa.

Perbudakan itu bisa terjadi pasa siapa saja. Pemimpin yang awalnya baik bisa berubah menjadi tidak obyektif dan jernih, ketika ia telah menikmati dan dinikmati oleh kekuasaan. Karena itulah kita mengenal ungkapan khas Lord Acton, power tends to corrupt.

Pemimpin partai, pemimpin negara, pemimpin perusahaan sampai pemimpin agama tidak luput dari perbudakan libido kekuasaan. Itu sebabnya, kita bisa melihat berbagai pertikaian dan perpecahan di lembaga-lembaga politik, ekonomi, sampai agama.

Baca juga:  Covid-19 dan Pentingnya Menjaga Hutan

Karena kuasa, jabatan, dan uang, kawan lalu berubah menjadi lawan. Bahkan, orang tua dan anak bisa tidak saling omong sampai kematian datang. Relasi-relasi menjadi rusak karena libido kuasa yang membuncah.

Pentingnya kendali
Realitas tersebut menantang kita untuk mengendalikan, bahkan mengosongkan diri. Tak ada manusia yang tidak punya hasrat. Dengan hasrat itu kita bertumbuh, membangun mimpi, dan mengejarnya. Namun, diri kita adalah subyek atas hasrat.

Jika karena hasrat tersebut kita membuat yang lain terlukai, atau bahkan menguasainya, lebih baik kita mengosongkan diri darinya. Kita bisa berdamai dengan diri sendiri, menciptakan ruang untuk hidup bersesama dengan damai dan cinta.

Dalam ruang hidup bersesama, kita dapat menikmati kehidupan secara rekreatif dan prokreatif.

Kita pun akan dibentuk menjadi semakin manusiawi bagi yang lain. Manusia yang manusiawi adalah yang menjadi subyek atas diri dan egonya, terelasi secara egaliter bersama yang lain.

Bagi orang semacam ini, keindahan hidup dan kemanusiaan adalah segala-galanya. Karena itu, pantang baginya untuk menguasai, melukai, apalagi sampai membunuh yang lain hanya karena kuasa yang bertopeng nasionalisme, fundamentalisme agama, dan isme-isme lainnya.

Baru-baru ini kita dengar, di Papua, misalnya, kembali ada darah yang tertumpah. Ini contoh libido kuasa bertopeng nasionalisme yang membuncah dan sekaligus mematikan. Kita berduka bersama korban dan manusia Papua juga prihatin atas tindakan tersebut. Siapa pun pelaku dan dalangnya, kita patut mengutuk kejahatannya.

Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta (Universitas Kristen Maranatha)
Foto: Panemupdates.wordpress.com

Bagikan