Press "Enter" to skip to content

Jakob Oetama: Putra Borobudur itu Telah Pergi

Konon suatu saat almarhum PK Ojong pernah bertanya pada Jakob Oetama: Jika presiden Soeharto menawarinya jabatan sebagai menteri penerangan, apakah Jakob akan menerimanya?

Atas pertanyaan itu, Jakob hanya tersenyum. Meski dalam hati ia merasa selamanya akan menjadi wartawan, tidak pernah terpikir menjadi pejabat.

Tak jelas, apakah Ojong, rekannya pendiri Intisari dan Kompas itu, memang serius akan desas-desus yang beredar kala itu atau hanya menguji rekannya yang lebih muda itu.

Yang jelas, orang sering melihat keduanya sebagai sosok yang saling berbeda namun saling melengkapi. Ojong dinilai lebih konseptual dan idealis, hingga beberapa kali harus bersinggungan dengan kekuasaan, sementara Jakob lebih praktis dan lihai membangun diplomasi. Dua sisi yang sama-sama dibutuhkan oleh media untuk tetap hidup.

Namun, tak adil rasanya jika menganggap Jakob sekedar sebagai orang yang pragmatis. Selepas kepergian Ojong pada Mei 1980, toh kita tetap melihat media Kompas dan Intisari bersikap independen, cukup kritis meski sangat halus. Jakob bahkan turut mempelopori didirikannya The Jakarta Post yang juga terbilang kritis dan independen.

Putra Borobudur melampaui guru dan wartawan
Jakobus Oetama lahir di Borobudur, Magelang pada 27 September 1931. Pria yang sejak muda sudah akrab dengan kaca mata tebal ini tumbuh di lingkungan pendidikan. Ayahnya, Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo adalah seorang guru.

Karir awal Jakob sendiri adalah sebagai guru di SMP Mardiyuwana Cipanas dan SMP Van Lith, Jakarta. Dalam studi lanjut pun ia memilih kekhususan sejarah, demi memperlengkapi keahlian pendidiknya.

Jakob baru berkenalan dengan dunia jurnalistik saat menjadi redaktur majalah mingguan Katolik, Penabur. Perkenalannya dengan banyak wartawan senior, termasuk PK Ojong adalah hal yang kemudian mengubah haluannya hingga ia kembali menempuh studi jurnalistik.

Baca juga:  Indonesia Akan Resesi? Ini Tanda yang Segera Terasa

Sebagai wartawan, Jakob selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang mau belajar. Tampilannya yang sederhana serta tak terlihat kritis dan membahayakan, membuatnya disukai hampir semua kalangan. Tapi Jakob selalu mementingkan nafas panjang, tidak perlu terburu-buru yang berisiko, namun perlahan tapi pasti harus terus berkembang.

Falsafah itulah yang membuatnya lebih dari sekedar guru yang mendabarkan pengetahuan, atau wartawan yang menyajikan informasi. Jakob adalah enterpreneur media.

Tak ada yang menyangka Kompas yang didirikan dengan keterbatasan dana dan personil (semua karyawannya dulu adalah pekerja Intisari) kini berkembang menjadi salah satu grup media terbesar di Indonesia dengan sekian banyak platform yang bisa mengejar dinamisnya zaman.

Hampir tak ada nama media yang bisa bertahan melewati tiga era, Orde Lama, Orde Baru hingga masa reformasi. Tapi Kompas masih bertahan, bahkan sangat jauh dari selesai, walaupun harus berganti format, tak lagi mengandalkan oplah cetakan. Ini tak lain karena kejelian Jakob menangkap peluang dan membuatnya terus belajar beradaptasi.

Tapi ia selalu merendah dengan berkata: “Wartawan adalah profesi saya, pengusaha itu karena keberuntungan saja.” Jakob sendiri terus bekerja meski di usia yang sudah sangat lanjut. Ia merasa tak perlu buru-buru pensiun, apalagi di tengah pergulatan media yang kini kian dinamis.

Namun, karya manusia tetap akan terbatas. Sejak 22 Agustus lalu Jakob sudah dirawat intensif di rumah sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. Usianya yang sudah jelang 89 tahun memang tak bisa lagi disangkali. Ia mengalami gangguan fungsi organ hingga harus menutup usia pada Rabu pagi (9/9).

Jakob Oetama dimakamkan pada hari ini, Kamis (10/9) di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Putra Borobudur itu pun kini menjadi pahlawan kita bersama.

Baca juga:  Arena Aquatic Megah Hadir di Papua

Foto: KOMPAS.com/ Garry Andrew Lotulu


Bagikan