Press "Enter" to skip to content

Cin(T)a: Kasih Beda Agama, Yang Tetap Manis Dibahas Kembali

Dalam beberapa kali momen kami menyelenggarakan camp pemuda-pemudi lintas agama, seringkali ada sesi santai yang cocok untuk dipakai menonton film. Sayang, beberapa kali kami agak kesulitan memilih film apa yang sesuai untuk momen itu.

Film-film dari negara luar mungkin cukup banyak yang bisa menampung nuansa ini. Katakanlah PK, karya Rajkumar Hirani dari India yang cukup kocak-romantis sembari memberi kritik segar atas sikap beragama. Film-film Eropa juga tak kurang banyak mengangkat tema ini, mulai dari yang genrenya dokumenter hingga drama yang memancing air mata.

Namun bagaimana dengan film Indonesia? Boleh dibilang jumlahnya masih sedikit, walau sudah ada.

Di luar film-film pendek atau festival, orang mungkin akan segera mengingat karya Hanung Bramantyo, Tanda Tanya (?), yang sempat populer karena kontroversinya, demikian pula garapannya yang lain Cinta Tapi Beda.

Atau cerita keberagaman keseharian semacam Cahaya dari Timur (Angga Dwimas), 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (Benni Setiawan). Demikian pula yang membahas fanatisme agama seperti Mata Tertutup (Garin Nugroho) dan Bidah Cinta (Nurman Hakim).

Namun, bagi saya pribadi film-film tadi punya kekurangan yang agak mencolok. Pesannya terlalu kentara.

Dialog-dialog dan alurnya begitu vulgar mempromosikan keberagaman. Meski beberapa film obrolannya sudah sangat mengalir – sebagian, tak perlu disebut yang mana – tidak beda jauh dari gaya para pejabat kita ngomongin Pancasila, tergolong klise dan jargonal.

Film-film tadi juga baru dibuat setelah 2011. Saat isu toleransi sudah makin santer dibicarakan dengan sejumlah perdebatannya.

Namun saya teringat ada satu pendahulu mereka semua, yaitu karya Sammaria Simanjuntak, Cin(T)a, yang diproduksi pada Mei 2009. Sammaria tergolong berani menggarap kisah cinta beda agama di kala itu. Tak heran film ini sempat tak lulus sensor, meski kemudian beroleh penghargaan Citra untuk kategori skenario asli terbaik.

Baca juga:  Blak-blakan Soal Pernikahan Beda Agama

Kisahnya sederhana saja, Cina (Sunny Soon) – seorang Kristiani beretnis Tionghoa asal Sumatera Utara, menjalin relasi dengan Annisa (Saira Jihan) seorang Muslimah-Jawa. Mereka bertemu di Kota Bandung.

Cerita kemudian bergulir dengan segala permasalahannya. Dari diskriminasi yang dialami Cina, kehidupan personal Annisa yang murung, hingga kasus intoleransi secara nasional saat terjadi pengeboman gereja di Malam Natal.

Uniknya tidak seperti film-film setelahnya, Cin(T)a tidak banyak mengundang orang lain untuk masuk dengan persoalan pelik semisal tantangan dari keluarga atau lingkungan, walau itu tersirat. Sammaria hanya berfokus pada dua sejoli dengan gelutan permasalahan masing-masing.

Dialog dalam bentuk perdebatan juga tidak banyak menyinggung ajaran agama, hanya sindir-canda yang wajar antara dua orang dekat. Selebihnya, adalah sorotan yang ciamik dengan detil-detil kota Bandung yang begitu teliti.

Ini yang membuat Cin(T)a punya daya tarik tersendiri. Ia tidak menggurui. Bahkan tidak memberi penutup kisah yang jelas.

Sebagian orang mungkin kurang puas dengan cara sutradara kelahiran Bandung ini menutup film. Ada kesan kurang berani memaparkan konflik serta seperti mengkhianati pesannya sendiri, bahwa cinta bisa melampaui perbedaan.

Namun, bukankah persoalan cinta dan nikah beda agama di negeri kita memang semenggantung itu?

Cin(T)a awalnya seperti disiapkan untuk seri omnibus. Itu sebabnya durasinya cukup pendek untuk sebuah film layar lebar, hanya 79 menit. Kekurangan itu kemudian diisi dengan testimoni dari sejumlah pasangan yang menjalani hubungan cinta lintas agama. Hal yang justru membuatnya semakin nyata dan keseharian.

Buat kebutuhan diskusi lintas iman maka durasi, gaya keseharian serta kemenggantungan pesan dari film ini justru sangat cocok. Meski kita tetap menunggu karya-karya hebat lain dengan tema keberagaman, Cin(T)a tetap manis untuk terus dibahas. **RS

Bagikan