Press "Enter" to skip to content

Akhir Minggu ke Solo

Sebagai penghuni ibukota, saya tidak banyak bepergian keliling Indonesia. Keinginan selalu ada, tapi rasanya tidak banyak kesempatan yang datang. Ditambah harga tiket domestik tak jarang menyaingi harga tiket internasional.

Dua tahun lalu, saya memutuskan untuk sesekali jalan keluar ibukota, ketika maskapai pelat merah negara kita memberi promo yang cukup murah untuk tiket domestik. Saya memutuskan untuk bepergian ke Solo bersama keluarga. Meski tidak terlalu jauh, ini pertama kalinya saya bepergian domestik di luar Jakarta dan Jawa Barat.

Saya tidak banyak berekspektasi. Travelling bersama keluarga biasanya lebih menghabiskan waktu menikmati fasilitas hotel seharian. Tapi, saya tetap menyusun itinerary. Yang tidak ingin saya lewatkan adalah kunjungan ke Pura Mangkunegaran, Kampung Batik, dan mencoba kuliner khas Solo.

Pura Mangkunegaraan lebih menarik minat saya ketimbang Keraton Surakarta Hadiningrat, istana resmi raja Solo. Itu karena awalnya saya tertarik untuk ikut Mangkunegaran Royal Dinner, tur makan malam ningrat di Mangkunegaran. Sayang hal itu urung kami ikuti, akhirnya saya hanya berkunjung tur regular di siang hari.

Di istana penguasa kadipaten Mangkunegaraan ini, kunjungan pasti akan ditemani oleh seorang pemandu wisata. Hal yang sebenarnya cukup menarik dan bagus untuk ditiru obyek wisata sejarah di Indonesia.

Banyak hal mengenai kultur Jawa yang dijelaskan oleh sang pemandu, seperti filosofi tiang Pendopo Ageng, nama-nama gamelan yang ada beserta kegunaannya masing-masing. Pengunjung disarankan untuk memberi tip sewajarnya pada pemandu wisata.

Bagian istana yang paling saya suka adalah Bale Warni yang di dalamnya terdapat taman asri dan Pracimoyoso, semacam balai tempat acara keluarga Mangkunegaran dilaksanakan. Beberapa area tidak boleh dimasuki karena merupakan area privat yang masih ditinggali keluarga Mangkunegaran sampai saat ini.

Baca juga:  Pencalonan Gibran diwarnai Banyak Blunder
Istana Mangkunegaraan

Karena Solo juga terkenal dengan kerajinan batiknya, kunjungan ke Kampung Batik Laweyan akan sayang sekali jika dilewatkan. Disini kita bisa menjumpai bermacam-macam kerajinan batik, mulai dari batik print yang murah meriah hinga batik tulis yang harganya jutaan. Selain bisa untuk dipakai sendiri, batik Solo juga bisa menjadi oleh-oleh yang berkesan.

Terkait kuliner, saya lebih banyak memesan take away untuk dimakan di hotel lewat aplikasi. Ada beberapa makanan khas Solo yang menurut saya enak dan tidak boleh dilewatkan.

Soto Gading, kuahnya kaya rempah tapi warnanya tetap bening dan rasanya segar. Es Gempol Pleret, enak sekali dimakan di siang hari yang panas. Serabi Notosuman, juga sudah sangat terkenal. Bakmi Godok dan tak lupa Toko Kue Orion, tempat Anda bisa membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah.

Gereja Katolik Santo Petrus Purwosari

Di hari terakhir saya mencoba ikut misa Minggu pagi di Gereja Katolik Santo Petrus Purwosari. Ada beberapa lagu pujian yang dibawakan dalam Bahasa Jawa. Rasanya itu jadi penutup yang membenarkan semangat Solo sebagai The Spirit of Java. **HW

Bagikan