Press "Enter" to skip to content

Sapiens: Uraian Sejarah Manusia Paling Provokatif

Terasa provokatif, tak lazim dan sangat fenomenal – itulah kesan yang saya dan mungkin banyak orang dapati saat menamatkan Sapiens karya Yuval Noah Harari.

Semua komentar di belakang buku ini mengungkap hal senada. Punggawa teknologi informasi Bill Gates bilang kalau buku ini sangat direkomendasikan bagi tiap orang yang tertarik pada sejarah umat manusia. Barack Obama berkomentar buku ini menarik sekaligus provokatif.

Mulanya saya tertarik pada buku ini karena melihatnya sangat laris. Ia selalu ada di rak buku best seller pada banyak toko buku yang saya lihat, baik di tanah air maupun di luar negeri. Dengan judul sekunder ‘A brief history of human kind, Riwayat singkat umat manusia,’ sebenarnya Sapiens bukanlah tipe bacaan yang akan saya lahap.

Tapi biar bagaimanapun saya toh tetap membelinya saat harus transit 6 jam di bandara Suvarnabhumi, Bangkok. Ternyata buku ini benar-benar mengubah sekaligus memberi pencerahan bagi sudut pandang saya memaknai kehidupan.

Sapiens punya empat bagian yang memaparkan perjalanan Homo sapiens dari sekedar mamalia yang tidak signifikan perannya menjadi kekuatan tak tertandingi, yaitu kita spesies manusia masa kini.

Informasi yang tersaji di tiap babnya terbilang sangat serius sekaligus mengguncangkan. Namun, Harari sangat lihai merunut sejarah dengan apik dan sederhana serta pilihan kata yang begitu menggugah.

Bagian pertama berkisah soal revolusi kognitif. Harari menulis bahwa kita, sapiens, memulai upaya untuk sukses dan mendominasi mahluk lain di dunia ini dikarenakan kita kemudian mempunyai cara efektif untuk berkomunikasi.

Ini yang membedakan kita dari spesies manusia lain seperti Neanderthal, Denisovan dan banyak lagi spesises lainnya. Kita mampu untuk berpikir hal-hal abstrak seperti impian, fantasi, legenda dan mitos – tidak hanya hal nyata yang terlihat oleh mata.

Baca juga:  Animal Farm: Rakus Pada Akhirnya Menjijikkan

Selepas revolusi kognitif, kita memasuki revolusi agrikultur. Komunikasi membawa sapiens bisa bekerja sama dalam jumlah besar dan mampu bertahan hidup dalam jumlah yang besar pula. Sapiens mencoba mengubah dunia dan cara hidupnya. Manusia tidak lagi berpindah-pindah, tapi mulai menetap dan mulai memikirkan kendali atas lingkungannya.

Hal yang menurut saya menarik adalah cara penulis menjelaskan soal keberhasilan manusia mendomestikasi tanaman dan ternak yang sebenarnya juga berarti bahwa manusialah yang didomestikasi. Tidak lagi berpencar.

Bagian ketiga dari buku ini berbicara soal penyatuan umat manusia. Disini kita diajak melihat bagaimana uang, agama, politik dan kapitalisme mulai mengendalikan hidup.

Benarkah uang tidak mampu membeli segalanya? Bagaimana bisa manusia dengan mudahnya saling membunuh atas nama agama? Kenapa kita harus memahami politik? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa jadi muncul saat kita membaca bagian yang amat menantang ini.

Di bagian akhir, Harari mengangkat revolusi saintifik. Tidak dapat disangkali bila ilmu pengetahuan merupakan pencapaian terbesar yang dapat digapai oleh manusia. Sains juga membentuk wajah masyarakat kita sekarang.

Meski demikian, benar bahwa kekuasaan yang besar juga menuntut tanggung jawab tak kalah besarnya. Apakah manusia mampu mengemban tanggung jawab sebesar itu? Bisakah kita mengendalikan hasrat dan keserakahan lalu memakai ilmu pengetahuan untuk membentuk dunia yang lebih baik? Atau, dengan segala yang kita tahu sekarang, kita malah sedang berjalan menuju malapetaka terbesar?

Tanpa perlu diragukan, tulisan Harari memang sangat menarik. Seperti disebutkan, meski sangat provokatif, namun terus memunculkan pertanyaan lanjutan.

Sapiens sangat pantas untuk ditamatkan, 443 halaman (544 halaman di edisi Indonesia terbitan Gramedia) yang berharga menghabiskan waktu kita. **HW

Bagikan