Press "Enter" to skip to content

Perlawanan Pauh-Koto Tengah dan Hari Jadi Kota Padang

Tidak banyak yang tahu muasal tanggal 7 Agustus ditetapkan sebagai hari lahir kota Padang.

Tanggal itu sebenarnya bukan didasarkan pada momen historis terbentuknya perkampungan baru di wilayah yang terletak di pesisir Barat pantai Sumatera ini. Melainkan didasarkan pada momen penyerangan terhadap loji atau benteng kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) milik Belanda pada 7 Agustus 1669.

Sebelum penyerangan itu, wilayah ini telah menjadi bagian dari kawasan rantau yang perkampungannya didirikan oleh masyarakat rantau Minangkabau dari daratan tinggi (darek) di abad sebelumnya.

Tempat permukiman yang pertama kali mereka bangun adalah perkampungan di pinggiran selatan Sungai Batang Arau di tempat yang sekarang merupakan wilayah kecamatan Seberang Padang. Sama seperti wilayah Minangkabau lain, daerah rantau dan perdagangan ini ada dalam pengawasan kuasa Kerajaan Pagaruyung, meski di abad ke-17 sempat menjadi wilayah bandar Kesultanan Aceh.

batang arau
Panorama Kota Padang di sehiliran Batang Arau pada abad ke-19/Wikipedia.

Bandar ini dimasuki pedagang Eropa sejak Inggris tiba pada 1649. Selanjutnya pada 1663 Belanda tiba di pelabuhan kota ini, lalu mengusir pihak Kesultanan Aceh pada 1668. Lewat perjanjian dengan Pagaruyung, VOC menguasai sepenuhnya perdagangan di pelabuhan Batang Arau dan perkampungan sekitarnya, yang kala itu sudah mencakup wilayah Koto Tengah dan Pauh.

VOC berhasil mengembangkan area ini dari perkampungan nelayan menjadi kota dengan nuansa metropolitan. Padang menjadi kota pelabuhan yang ramai bagi perdagangan emas, teh, kopi, dan rempah-rempah.

Dominasi inilah yang mendorong pemberontakan masyarakat Minang di wilayah rantau ini. Berkali-kali orang-orang dari Koto Tangah dan Pauh dengan bantuan Aceh, menyerang benteng perdagangan Belanda di kawasan pelabuhan Batang Arau.

Mereka terus mengusik, bahkan menganggu stabilitas bandar dagang. Serangan pada 7 Agustus 1669, adalah salah satu yang terbesar.

Baca juga:  Mandi Jelang Ramadhan, Tradisi Lintas Tempat di Nusantara

Rusli Amran dalam buku Padang Riwayatmu Dulu (1988) menulis, serangan itu merugikan pihak Belanda tak kurang dari 28.000 gulden. “Seorang yang bernama Berbangso Rajo dari Minangkabau disebut sebagai otak penyerangan,” tulisnya.

Rakyat Pauh dan Koto Tangah, menurut Rusli, betul-betul menyulitkan kedudukan Belanda. Loji dagang VOC dua kali diserang dan dibakar habis. Selain 7 Agustus 1669, serangan juga terjadi pada awal tahun 1870.

Namun, VOC dalam banyak pemberitaannya terlihat berusaha menutupi serangan hebat itu. Petinggi VOC kemudian membuat versi berita bahwa loji terbakar bukan karena serangan rakyat. Tapi oleh karena ada kucing yang menyambar lampu minyak.

Penetapan tanggal ini menjadi hari jadi Kota Padang, sebenarnya baru dilakukan pada 31 Juli 1986, pada masa kepemimpinan Syahrul Ujud sebagai wali kota.

Saat itu, dari berbagai referensi yang ditemukan, terkumpul beberapa momen terkait sejarah Kota

Padang yang dapat dipertimbangkan. Setelah dirapatkan dengan jajaran terkait, yakni pemerintah kota, DPRD, dan dikonsultasikan dengan para sejarawan dan tokoh masyarakat, disepakati hari ketika rakyat Minangkabau merebut benteng VOC itulah sebagai ulang tahun ibukota Sumatera Barat ini.

Bercermin dari nama kota Padang itu sendiri, yang bisa berarti tanah datar yang luas, namun juga berarti ‘pedang’. Kota ini lahir dari semangat dagang dan perlawanan untuk merdeka. **RS

Foto: Akhir Matua Harahap/Tempoe Doeloe

Bagikan