Press "Enter" to skip to content

Tips Membicarakan Seksualitas untuk Anak

Kita kini hidup di masa yang cukup ambigu soal seksualitas. Di satu sisi, kemudahan informasi membuat konten tersebut sangat mungkin diakses anak. Sementara masyarakat kita umumnya masih menganggap pembicaraan seksual adalah hal yang tabu atau tidak pantas.

Tarikan antara dua hal ini seringkali membingungkan bagi anak. Tidak jarang pengetahuan tentang seksualitas ia peroleh bukan dari orangtua, guru atau sumber-sumber kredibel, namun dari rekan sebaya atau sumber info lain yang jarang ia bicarakan di keluarga.

Berbicara seksualitas memang adalah hal yang privasi. Jadi ini cukup tergantung pada orangtua, nyaman atau tidak membuka diri. Biasanya suatu keluarga terbiasa terbuka dengan pasangan, maka kebiasaan itu akan terbawa ketika mereka punya anak, termasuk pembicaraan soal seksualitas.

Tidak perlu ragu anak bakal bagaimana, yang lebih utama adalah keberanian untuk terbuka.

Hal ini bisa dimulai sejak anak usia dini. Misal saat anak masih kecil, orangtua bisa membiasakan minta izin untuk membersihkan area genital. “Permisi ya Sayang, Mama/Papa bersihkan dulu kotoran pupnya.”

Mungkin kita ragu apakah anak mengerti atau tidak. Tapi setidaknya gestur yang demikian bisa menyadarkan anak bahwa ia diperlakukan penuh respek. Ini perlu dilakukan sampai anak lulus toilet training dan tidak minta bantuan.

Di kesempatan berikutnya, misal ketika ia sakit, orangtua perlu terus membiasakan agar anak memberi izin dulu sebelum orangtua menyentuh area genital.

Demikian pula dengan siapa saja orang yang boleh melakukan hal seperti itu dengan tujuan apa. Misalnya, dokter saat memeriksa penyakit atau melakukan khitan.

Pembiasaan di usia berikutnya bisa pada saat mandi sembari memberi pemahaman terkait fungsi dan menjaga kebersihan organ-organ tubuh termasuk alat kelamin.

Baca juga:  Seputar Covid-19

Jika ini terbina dengan baik, di usia remaja saat anak sudah memasuki masa pubertas, orangtua bisa menjadi rekan diskusi yang baik bagi anak.

Yang juga tidak boleh dilupakan adalah juga mendengar pendapat anak. Biarkan anak juga mengutarakan apa yang telah dan belum ia ketahui soal seksualitas. Tidak perlu langsung mendikte atau menyalahkan apalagi melecehkannya.

Kejujuran juga merupakan sikap penting dalam membicarakan hal ini. Adalah wajar untuk menyatakan ekspresi semisal: “Sebenarnya Mama agak malu membicarakannya,” atau “Ayah kurang tahu soal itu,” ketimbang meredam pertanyaan dan keingintahuan anak dengan melarang atau menyuruh diam.

Keterbukaan seperti ini tentulah membutuhkan rasa nyaman dan saling percaya. Ini baru bisa didapat jika orangtua memberi perhatian dan waktu yang cukup dalam mendampingi anak.

Kita mungkin tidak dapat mencurahkan waktu yang terlalu banyak, tapi bisa memastikan kita ada untuk mereka. **RS

Foto: Sofianaindraswari.com