Press "Enter" to skip to content

Olahan Susu Kerbau Khas Indonesia

Kerbau sebenarnya lebih dulu dikenal di tradisi Nusantara ketimbang sapi. Hewan ternak yang satu ini merupakan alat produksi pertanian sebelum penggunaan mesin.

Di sejumlah budaya seperti di Toraja, Makassar, Minangkabau maupun Tapanuli, kerbau memainkan peranan penting dalam ritual adat. Konsumsi daging kerbau biasanya hanya saat pesta besar, umumnya dalam keseharian, kerbau dipakai untuk membajak sawah dan diambil susunya.

Susu kerbau memiliki aroma yang lebih kuat ketimbang susu sapi. Zat gizinya tidak berbeda jauh, hanya saja, kandungan nutrisinya umumnya lebih banyak. Susu kerbau mengandung protein, lemak dan laktosa yang lebih besar. Satu gelas (250 ml) susu sapi biasanya mengandung 149 gr kalori, sementara susu kerbau sekitar 237 gr kalori.

Selain dikonsumsi dalam bentuk cairnya, susu kerbau juga dapat diolah dalam bentuk yang lebih padat. Setidaknya ada tiga jenis kuliner khas Nusantara yang merupakan olahan dari susu kerbau.

Dadiah
Dadiah atau dadih adalah ferementasi susu kerbau khas wilayah segitiga Sumatera Barat: Agam, Tanah Datar dan Lima Puluah Koto, yang biasa disebut Luhak nan Tigo.

Susu kerbau yang baru diperah pada pagi hari langsung dimasukkan ke dalam bilah bambu, kemudian diberi daun watu dan ditutup dengan daung pisang. Proses ini bisa berlangsung sehari hingga tiga hari. Semakin lama fermentasinya, dadiah akan semakin mengeras.

Dadiah punya tekstur yang lembut dan rasa agak masam. Mungkin terlihat seperti yoghurt, hanya saja lebih padat. Dadiah biasanya dinikmati dengan emping beras ditambah siraman gula aren atau bisa juga dimasak dengan sambal menjadi lauk pendamping nasi.

Dadiah/Travelingyuk.com

Dali ni Horbo
Jika dadiah mirip dengan yoghurt, dali ni horbo lebih menyerupai keju. Sama-sama menggunakan susu perahan segar, dali atau di beberapa daerah disebut bagot, kemudian dididihkan. Lalu perasan daun pepaya dan nanas ditambahkan untuk membantu proses pengentalan.

Baca juga:  Lawar: Keseimbangan Bali dalam Kuliner

Tekstur dali ni horbo lembut seperti tahu susu. Rasanya gurih bercampur sedikit rasa pahit dan asam. Dali ni horbo langsung dapat dikonsumsi, atau jika mau sensasi rasa yang lebih kompleks dapat dimasak dengan bumbu arsik, yaitu varian bumbu yang biasa dipakai untuk memasak ikan.

Dali ni Horbo
Dali ni Horbo/Bonapasogit.files.wordpres.com

Dangke
Pembuatan Dangke, mirip dengan dali ni horbo, dimana proses pengentalannya menggunakan getah pepaya. Konon katanya nama dangke ini berasal dari ekspresi orang Belanda (secara harafiah: terimakasih) saat mencoba makanan khas Enrekang, Sulawesi Selatan ini.

Dangke
Dangke/Ksmtour.com

Dangke bisa dimakan begitu saja, seperti keju. Tetapi juga ada yang suka mengkonsumsinya dengan cara dibakar atau dimakan dengan nasi dan sambal terasi sebagai lauk.

Seiring dengan semakin sedikitnya populasi ternak kerbau, ketiga makanan di atas kini semakin jarang ditemui. Padahal sensasi rasanya sangat unik dan patut dilestarikan. **RS

Foto: Tempo/Choirul Aminuddin

Bagikan