Press "Enter" to skip to content

Sisingamangaraja XII: 29 Tahun Melawan Belanda

“Ahu Sisingamangaraja!” (Akulah Sisingamangaraja)

Konon, itulah teriakan terakhir Sisingamangaraja XII saat tertembak gabungan pasukan Belanda.

Dalam pertempuran terakhir yang berlangsung di pinggir sungai Aek Sibulbulon di desa Onom Hudon (sekarang perbatasan wilayah Humbang Hasundutan dan Dairi) pada Juni 1907, sang pahlawan gugur bersama putrinya Lopian serta dua putranya, Patuan Nagari dan Patuan Anggi. Sebelumnya putra-putrinya yang lain bersama istri dan ibunya juga telah tertawan pasukan Belanda.

Teriakan itu sebenarnya sangat mungkin kejadian. Sebab dalam banyak aspek perlawanan selama 29 tahun itu (1878-1907), frasa itu sering dipakai. Seruan yang sama juga hadir dalam simbol perang dan stempel yang dipakai sang raja.

Seruan itu bukanlah kengototan soal gelar atau posisi, ia adalah ekspresi perlawanan yang kuat dari identitas budaya dan spiritualitas.

Sisingamangaraja bukan sekedar berebut wilayah dengan Belanda, namun gigih mempertahankan tanah air, adat kebiasaan, keyakinan, hukum, kemerdekaan dan kesetaraan – yang menyatu utuh sebagai identitas dan keseharian ia dan masyarakatnya.

Secara jumlah pasukan, persenjataan, strategi perang dan banyak faktor teknis lain pasukan Sisingamangaraja XII nyaris tidak ada apa-apanya dibandingkan para prajurit dan tentara bayaran kolonial.

Berbeda dengan Perang Aceh atau Perang Jawa, yang punya logistik serta tentara yang lebih terorganisir – Perang Batak sepenuhnya adalah gerilya dan serangan sesekali.

Pulas sebagai laku spiritual
Bermula dari upacara spiritual di pusat kediamannya di Bangkara, 16 Februari 1878, raja wilayah yang bernama lahir Patuan Bosar itu menyatakan pulas (perang) terhadap upaya aneksasi Belanda atas seluruh Sumatera.

Tentu saja itu penyataan nekat. Pada periode itu di pulau Sumatera hanya raja-raja wilayah Tapanuli dan Kesultanan Aceh yang belum tunduk pada pemaksaan Belanda atas Perjanjian Pendek (Korte Verklaring).

Baca juga:  Prabowo Subianto Bintang di Ayunan Kontroversi

Namun kerajaan wilayah di Tapanuli tidaklah sesolid kesultanan Aceh. Tidak ada penguasa tunggal, hanya pemerintahan kecil di tiap huta yang tak satu sikap atas pendudukan dan monopoli perdagangan Belanda. Bahkan beberapa huta sudah langsung menyambut pemerintahan kolonial.

Biar bagaimanapun, Sisingamangaraja XII tetap menyerang pos pendudukan Belanda di Bahal Batu, memaksa Belanda menambah jumlah pasukannya, lalu berbalik menyerang Bangkara dan seluruh wilayah sekitar.

Sisingamangaraja memilih menyingkir, bergerilya sambil mengonsolidasikan kekuatan. Ia bersekutu dengan kesultanan Aceh dan penguasa wilayah di sekitar Gayo, Alas, Singkil, serta sebagian wilayah Melayu.

Serangan berikutnya dilakukan sepuluh tahun kemudian. Sempat sangat menyulitkan Belanda karena di waktu yang sama juga tengah menghadapi peperangan besar dengan kesultanan Aceh.

Tahun 1889, pejuang-pejuang Batak bahkan merebut beberapa huta di wilayah Lobu Talu, Tamba dan Horian. Kembali memaksa Belanda mendatangkan pasukan tambahan dari Padang.

Sisingamangaraja XII- Lukisan Augustin Sibarani
Sisingamangaraja XII- Lukisan Augustin Sibarani.

Kecil-kecil namun merepotkan, itulah kesusahan Belanda menghadapi perlawanan yang digelorakan Sisingamangaraja dari hutan-hutan Tapanuli selama 29 tahun. Puncaknya, tentara sewaan dari Senegal dan elit korps Marsose harus ditugaskan khusus untuk memburu raja kelahiran 18 Februari 1845 ini.

Sebelum habis-habisan mengejar sang pemimpin perang, Belanda pernah menawarkan jalan damai dengan meminta Sisingamangaraja berhenti melawan dengan imbalan menobatkannya sebagai Sultan atas seluruh wilayah ‘Batak‘.

Tentu saja ini taktik demi memudahkan kontrol atas wilayah Tapanuli yang egaliter dari segi pemerintahan wilayah. Tawaran itu jelas ditolak, karena bagi sang raja perang ini bukan soal tahta – tapi laku spiritual.

Sisingamangaraja kemungkinan sudah tahu sangat sulit untuk mengalahkan Belanda. Tapi ia tetap melawan dan menentang. Baginya perlawanan adalah sikap menjaga martabat. Ia akan terus berusaha hidup, menyerang, lalu menghindar untuk menyerang kembali.

Baca juga:  Mengenal Sosok Sulianti Saroso

Sikap itu harus dibayar mahal. Berjuang di pedalaman selama puluhan tahun, kehilangan nyaris semua anggota keluarga dan prajurit terbaiknya – ia tetap memekik: Akulah Sisingamangaraja. Perlawananku akan terus hidup. **RS

Bagikan