Press "Enter" to skip to content

Pertama Setelah Reformasi: Gubernur Defenitif Tanpa Pilkada

Peristiwa politik yang terjadi di Provinsi Kepulauan Riau kali ini terbilang unik. Isdianto, ditetapkan menjadi gubernur defenitif pada Senin (27/7).

Sebelumnya, Isdianto telah menjalani tugas sebagai Plt. Gubernur Kepri sejak Juli 2019, menyusul penahanan Gubernur Kepri saat itu, Nurdin Basirun, oleh KPK. Namun, ia bukanlah wakil Nurdin di Pilkada yang mengusung pemimpin daerah untuk periode 2016-2021.

Isdianto baru menjabat sebagai wakil gubernur pada 27 Maret 2018, menggantikan posisi Nurdin yang naik menjadi gubernur selepas wafatnya gubernur terpilih Muhammad Sani. Muhammad Sani, yang juga kakak kandung Isdianto, adalah gubernur pemenang pilkada Kepri untuk dua periode 2010-2015 dan 2016-2021. Sayang, tak sampai dua bulan menjalani periode keduanya, Sani wafat pada 8 April 2016.

Meski kejadian ini memang mungkin terjadi dengan format aturan pemilihan pemimpin daerah yang kita miliki sekarang, namun tetap saja ada keunikannya tersendiri. Baru kali ini selepas reformasi ada gubernur defenitif hasil pilihan DPRD, bukan yang berjuang lewat Pilkada. Di sisi lain, kali pertama pula adik dan kakak kandung menjadi gubernur dalam satu periode.

Isdianto, sama seperti kakaknya, adalah PNS yang telah lama meniti karir, baik saat masih di Provinsi Riau, maupun setelah pemekaran Provinsi Kepulauan Riau.

Pria berusia 59 tahun ini baru terjun ke dalam dunia politik saat dicalonkan oleh Partai Demokrat untuk mengisi jabatan kosong wagub lewat pilihan DPRD. Uniknya, sesaat setelah resmi menjadi wagub, Isdianto pindah gerbong ke PDI-P.

Tak sampai disitu, kini pria kelahiran Tanjung Batu Kota itu pun kini telah resmi keluar dari partai banteng. Ia tetap punya magnet untuk menarik partai-partai lain mencalonkannya pada pilkada Kepri mendatang. Koalisi Partai Hanura dan PKS kini resmi telah mengusungnya bersama Suryani untuk menjadi cagub dan cawagub di 2021.

Baca juga:  Presiden: Harus Tegas dan Sigap Cegah Kebakaran Hutan

Masih ada waktu hampir setahun buat Isdianto untuk membuktikan kinerjanya. Yang jelas, konstelasi politik di banyak daerah Indonesia memang jadi semakin unik dengan fenomena ini. **RS

Foto: Batamxinwen

Bagikan