Press "Enter" to skip to content

Serbia Bantu Indonesia Tangkap Pembobol BNI

Ekstradisi terhadap pelaku kasus pembobolan Bank BNI berlangsung sukses. Pemerintah negara Serbia telah resmi menyerahkan buronan yang bernama Maria Pauline Lumowa.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly, menyampaikan kabar baik tersebut lewat keterangan pers tertulis.

“Dengan gembira saya menyampaikan, kami telah secara resmi menyelesaikan proses handing over atau penyerahan buronan atas nama, Maria Pauline Lumowa, dari Pemerintah Serbia,” kata Yasonna pada Rabu malam (8/7).

Menurut Menkumham, keberhasilan menuntaskan proses ekstradisi ini merupakan peran diplomasi hukum dan hubungan baik kedua negara. Ini juga bentuk komitmen pemerintah dalam upaya penegakan hukum yang berjalan panjang.

Yasonna menambahkan bahwa upaya pemulangan tersebut sempat mendapat gangguan, namun Pemerintah Serbia tegas pada komitmennya untuk membantu mengekstradisi Maria Pauline Lumowa ke Indonesia.

“Indonesia dan Serbia memang belum saling terikat perjanjian ekstradisi, namun lewat pendekatan tingkat tinggi dengan para petinggi Pemerintah Serbia. Dan mengingat hubungan sangat baik antara kedua negara, permintaan ekstradisi Maria Pauline Lumowa dikabulkan,” lanjut sang menteri.

Maria merupakan salah satu tersangka pelaku pembobolan kas bank BNI cabang Kebayoran Baru dengan modus Letter of Credit (L/C) fiktif.

Selama Oktober 2002-Juli 2003, BNI disebutkan telah mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro (sekitar Rp 1,7 Triliun pada kurs saat itu). Dana ini diberikan kepada PT Gramarindo Group yang dinyatakan milik Maria bersama Adrian Waworuntu.

Aksi ini disinyalir beroleh bantuan dari pegawai BNI karena bank tetap menerima jaminan L/C dari sejumlah bank seperti Dubai Bank Kenya Ltd., Rosbank Switzerland, Middle East Bank Kenya Ltd, dan The Wall Street Banking Corp yang bukan merupakan bank korespondensi dari BNI.

Baca juga:  Glenn yang Merangkul Semua

Kecurigaan atas transaksi keuangan PT Gramarindo Group muncul sejak 2003. BNI kemudian mengadakan penyelidikan internal dan mendapati perusahaan tersebut tak pernah melakukan ekspor. Namun sebelum dijadikan tersangka Maria telah lebih dulu kabur lewat Singapura.

Pada 2009 perempuan asal Paleloan, Sulawesi Utara tersebut kemudian diketahui telah berada di Belanda dan sering bolak-balik ke Singapura. Maria ternyata telah menjadi warga kerajaan Belanda sejak 2009.

Indonesia sudah dua kali mengajukan proses ekstradisi pada pemerinta Belanda, pada 2010 dan 2014, namun ditolak. Belanda sempat mengajukan opsi agar Maria disidangkan di negeri kincir angin.

Situasi ini mendapati babak baru kala Maria Pauline Lumowa ditangkap oleh NCB Interpol Serbia di Bandara Internasional Nikola Tesla, Serbia, pada 16 Juli 2019. Penangkapan itu dilakukan berdasarkan red notice Interpol yang telah diterbitkan sejak 22 Desember 2003.

Keberhasilan ekstradisi ini tidak lepas dari asas timbal balik. Sebelumnya, Indonesia sempat mengabulkan permintaan Serbia, untuk mengekstradisi pelaku pencurian data nasabah, Nikolo Ilievpada 2015 lalu. **RS

Ilustrasi: en24